Walikota Palembang Romi Herton mengunjungi lokasi kebakaran di kawasan Plaju yang terjadi Minggu (11/8/2013) kemarin.
Romi dalam kunjungan tersebut, Senin (12/8/2013) memberikan bantuan berupa peralatan masak dan kebutuhan sembako lainnya, seperti beras.
Selain itu juga dibérikan bantuan sejumlah uang untuk 13 kepala keluarga.
"Saya mengucapkan turut berduka cita atas mussibah yang menimpa semua masyarakat," terang Romi pada warga yang berkumpul.
Sidak yang dilakukan Walikota Palembang Romi Herton, Senin (12/8/2013), menyita perhatian masyarakat. Akibatnya antrean kendaraan cukup panjang, dan seluruh kendaraan merayap lambat.
Sidak yang digelar untuk memantau kesiapan Kota Palembang dari sisi kebersihan. Sejumlah masyarakat saat ini tampak antusias karena bertemu langsung dengan walikota.
Sebelumnya, Walikota Palembang Romi Herton melakukan inspeksi mendadak (sidak) kebeberapa pasar. Sidak dimulai dari Pasar Cinde.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Sripoku.com, rencananya sidak tersebut akan berakhir di Pàsar 16 Ilir.
Sidak yang dilàkukan walikota bersama sejumlah kepala dinas ini untuk memantau kebersihan disejumlah titik.
Hal tersebut ùntuk mensukseskan event Islamic Solidarity Games (ISG) yang akan digelar pada Agustus dan September 2013 ini
Tampilkan postingan dengan label Bancana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bancana Alam. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Agustus 2013
Minggu, 16 Juni 2013
Penebangan Liar di Kawasan TNKS Sumsel Marak
MUSIRAWAS - Praktek penebangan kayu liar di kawasan hutan Taman Nasional Krinci Seblat di Kecamatan Ulu Rawas Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, saat ini tetap berlanjut dan makin marak, kata Damari, warga Desa Kota Tanjung, Jumat (14/6/2013).
Menurut dia, kayu-kayu kualitas ekspor itu setiap hari diangkut menggunakan truk dan dum truk ke lokasi pengolahan kayu (sawmill) pengusaha di daerah itu mencapai ratusan meter kubik.
Ia mengatakan, kayu-kayu jenis meranti merah, tenam dan merbau diambil dari dalam kawasan hutan setempat dan mereka tidak mengetahui wilayah itu masuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
"Kami sekedar pekerja pak, dibayar hanya cukup untuk makan dan kalau tidak menebang kayu di hutan hutang makin menumpuk," ujarnya.
Pengambilan kayu sudah biasa dilakukan sebelum jalan darat ke Kecamatan Ulu Rawas dibangun, mereka mengangkut menggunakan jalur sungai hingga ke pangkalan penumpukan kayu di bagian hilir sungai itu.
Pengambilan kayu-kayu itu sudah jauh masuk hutan dan dibuat dalam bentuk empat persegi atau balok kaleng, kemudian diangkut ke tepi sungai atau jalan raya, ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Kamis (13/6), lokasi pembalakan kayu itu jaraknya sekitar 170 kilometer dari Kota Lubuklinggau dan ditemukan beberapa truk tengah mengangkut kayu dari lokasi penumpukan dalam wilayah Kecamatan Ulu Rawas.
Modus pengangkutan kayu dalam bentuk balok kaleng itu menggunakan dum truk dengan tujuan mengelabui petugas dan bahkan ada juga terang-terangan menggunakan truk bak panjang terbuka.
Camat Ulu Rawas M Daud ketika dikonfirmasikan tidak berada di tempat dan ketika dihubungi telepon selulernya tidak aktif, namun masyarakat daerah itu mengatakan, pengangkutan kayu setiap hari dilakukan untuk diolah pada usaha pengolahan kayu di Kecamatan Rawas Ulu dekat jalan lintas Sumatera.
Berdasarkan peta tata ruang Dinas Kehutanan setempat menyebutkan wilayah Kecamatan Ulu Rawas sebagian besar masuk kawasan Hutan TNKS dan sangat dekat dengan Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.
Menurut dia, kayu-kayu kualitas ekspor itu setiap hari diangkut menggunakan truk dan dum truk ke lokasi pengolahan kayu (sawmill) pengusaha di daerah itu mencapai ratusan meter kubik.
Ia mengatakan, kayu-kayu jenis meranti merah, tenam dan merbau diambil dari dalam kawasan hutan setempat dan mereka tidak mengetahui wilayah itu masuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
"Kami sekedar pekerja pak, dibayar hanya cukup untuk makan dan kalau tidak menebang kayu di hutan hutang makin menumpuk," ujarnya.
Pengambilan kayu sudah biasa dilakukan sebelum jalan darat ke Kecamatan Ulu Rawas dibangun, mereka mengangkut menggunakan jalur sungai hingga ke pangkalan penumpukan kayu di bagian hilir sungai itu.
Pengambilan kayu-kayu itu sudah jauh masuk hutan dan dibuat dalam bentuk empat persegi atau balok kaleng, kemudian diangkut ke tepi sungai atau jalan raya, ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Kamis (13/6), lokasi pembalakan kayu itu jaraknya sekitar 170 kilometer dari Kota Lubuklinggau dan ditemukan beberapa truk tengah mengangkut kayu dari lokasi penumpukan dalam wilayah Kecamatan Ulu Rawas.
Modus pengangkutan kayu dalam bentuk balok kaleng itu menggunakan dum truk dengan tujuan mengelabui petugas dan bahkan ada juga terang-terangan menggunakan truk bak panjang terbuka.
Camat Ulu Rawas M Daud ketika dikonfirmasikan tidak berada di tempat dan ketika dihubungi telepon selulernya tidak aktif, namun masyarakat daerah itu mengatakan, pengangkutan kayu setiap hari dilakukan untuk diolah pada usaha pengolahan kayu di Kecamatan Rawas Ulu dekat jalan lintas Sumatera.
Berdasarkan peta tata ruang Dinas Kehutanan setempat menyebutkan wilayah Kecamatan Ulu Rawas sebagian besar masuk kawasan Hutan TNKS dan sangat dekat dengan Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.
Rumah Medi Terbelah Diamuk Puting Beliung
Hujan deras disertai petir dan angin kencang mengguyur Kecamatan Rambang Dangku, Muaraenim. Setidaknya tiga desa, yakni Desa Baturaja, Desa Dangku dan Desa Siku, porak-poranda dilanda puting beliung, Minggu (16/6/2013).
Dari pantauan di lapangan, hampir sepanjang jalan dari Desa Baturaja menuju Desa siku yang menyisir Sungai Lematang terlihat puluhan pohon-pohon besar bertumbangan. Selain itu tampak warga sibuk memperbaiki rumah karena atapnya banyak beterbangan dan membersihkan pohon-pohon bertumbangan.
Menurut Sekdes Dangku Karman, kejadiannya pada malam Minggu kemarin. Sedangkan Minggu pagi harinya warga secara gotong royong sudah membersihkan pohon-pohon yang tumbang sebab menganggu lalulintas kendaraan.
Di desanya, sedikitnya 30 rumah warga atapnya melayang. Meskipun tidak ada yang parah, namun kerusakan tersebut memaksa warga menghentikan aktivitas berkebun. Rata-rata warga bergotong royong memperbaiki atap rumahnya.
Sementara di Desa Siku, puluhan rumah dan kebun karet mengalami kerusakan. Selain itu juga merobuhkan belasan tiang PLN di tiga lokasi berbeda sehingga listrik padam. Akibatnya listrik di tiga kecamatan yakni Kecamatan Belimbing, Rambang Dangku dan Tanah Abang, padam total.
Hal senada dikatakan Ramsirun, Kades Baturaja. Selain trafo PLN yag rusak, puting beliung membuat 56 rumah rusak ringan, 22 rumah rusak berat dan dua rumah hancur.
Salah satu rumah yang hancur adalah rumas dinas di Komplek SMPN 4 Rambang Dangku yang dihuni Medi Heriyanto, penjaga sekolah. Rumah tersebut terbelah menjadi dua setelah pohon kapuk disebelah rumahnya roboh.
Dari pantauan di lapangan, hampir sepanjang jalan dari Desa Baturaja menuju Desa siku yang menyisir Sungai Lematang terlihat puluhan pohon-pohon besar bertumbangan. Selain itu tampak warga sibuk memperbaiki rumah karena atapnya banyak beterbangan dan membersihkan pohon-pohon bertumbangan.
Menurut Sekdes Dangku Karman, kejadiannya pada malam Minggu kemarin. Sedangkan Minggu pagi harinya warga secara gotong royong sudah membersihkan pohon-pohon yang tumbang sebab menganggu lalulintas kendaraan.
Di desanya, sedikitnya 30 rumah warga atapnya melayang. Meskipun tidak ada yang parah, namun kerusakan tersebut memaksa warga menghentikan aktivitas berkebun. Rata-rata warga bergotong royong memperbaiki atap rumahnya.
Sementara di Desa Siku, puluhan rumah dan kebun karet mengalami kerusakan. Selain itu juga merobuhkan belasan tiang PLN di tiga lokasi berbeda sehingga listrik padam. Akibatnya listrik di tiga kecamatan yakni Kecamatan Belimbing, Rambang Dangku dan Tanah Abang, padam total.
Hal senada dikatakan Ramsirun, Kades Baturaja. Selain trafo PLN yag rusak, puting beliung membuat 56 rumah rusak ringan, 22 rumah rusak berat dan dua rumah hancur.
Salah satu rumah yang hancur adalah rumas dinas di Komplek SMPN 4 Rambang Dangku yang dihuni Medi Heriyanto, penjaga sekolah. Rumah tersebut terbelah menjadi dua setelah pohon kapuk disebelah rumahnya roboh.
Jumat, 24 Mei 2013
Waspada ! Gelombang Selat Sunda 3 Meter
Bandarlampung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan selama beberapa jam ke depan tinggi maksimum gelombang di perairan Selat Sunda bagian selatan berpotensi mencapai 3 meter.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Klas IV Lampung Rintiana di Bandarlampung, Jumat pagi, mengatakan bahwa cuaca di perairan Selat Sunda bagian selatan itu berawan, arah dan kecepatan angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot.
Prakiraan cuaca dan gelombang laut itu berlaku 24 jam, mulai 24 Mei 2013 pukul 07.00 WIB hingga 25 Mei 2013 pukul 07.00 WIB.
Rintiana menyampaikan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda bagian utara (Merak-Bakauheni) berawan, arah angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter, dan tinggi maksimum gelombang 1,5--2,0 meter.
Perairan pantai barat Lampung, angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca hujan, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter dengan tinggi gelombang maksimum 2,0--2,5 meter.
Rintiana menyebutkan prakiraan cuaca di perairan pantai timur Lampung, angin berembus dari selatan ke barat daya dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca berawan, tinggi gelombang 0,5--0,75 meter, dan tinggi gelombang maksimum 0,75--1,25 meter.
Perairan Samudra Hindia barat Lampung, angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca hujan, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter, dan tinggi gelombang maksimum 2,0--2,5 meter.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Klas IV Lampung Rintiana di Bandarlampung, Jumat pagi, mengatakan bahwa cuaca di perairan Selat Sunda bagian selatan itu berawan, arah dan kecepatan angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot.
Prakiraan cuaca dan gelombang laut itu berlaku 24 jam, mulai 24 Mei 2013 pukul 07.00 WIB hingga 25 Mei 2013 pukul 07.00 WIB.
Rintiana menyampaikan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda bagian utara (Merak-Bakauheni) berawan, arah angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter, dan tinggi maksimum gelombang 1,5--2,0 meter.
Perairan pantai barat Lampung, angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca hujan, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter dengan tinggi gelombang maksimum 2,0--2,5 meter.
Rintiana menyebutkan prakiraan cuaca di perairan pantai timur Lampung, angin berembus dari selatan ke barat daya dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca berawan, tinggi gelombang 0,5--0,75 meter, dan tinggi gelombang maksimum 0,75--1,25 meter.
Perairan Samudra Hindia barat Lampung, angin berembus dari barat daya ke barat dengan kecepatan 5--10 knot, cuaca hujan, tinggi gelombang 1,25--1,5 meter, dan tinggi gelombang maksimum 2,0--2,5 meter.
Jangan Mendekat Ke Gunung Krakatau
Bandarlampung - Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan menyebutkan aktivitas gunung api aktif di Selat Sunda itu masih tetap normal dalam dua bulan terakhir, namun nelayan dan wisatawan tetap dilarang mendekat dalam radius 1-2 km dari gunung tersebut.
"Meski dalam dua bulan terakhir gempa vulkaniknya tercatat rata-rata 50, dan umumnya gempa dangkal, namun statusnya belum diubah. Dengan demikian, larangan mendekat dalam radius 1-2 km dari gunung tersebut tetap diberlakukan," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Andi Suardi, saat dihubungi dari Bandarlampung, Rabu.
Ia menyebutkan kegempaan GAK kadang 13, 18 atau di bawah 100. Meski demikian, pemantauan tidak boleh diabaikan sehubungan statusnya yang sulit diprediksi.
"Kemarin tercatat 112 gempa vulkanik dangkal. Selain itu, juga terlihat asap setinggi 50-100 meter, mungkin terkena hujan saat permukaan gunung tersebut panas," katanya lagi.
Ia kembali menegaskan, meski kegempaan gunung api itu cenderung turun, namun kondisi Gunung Anak Krakatau sulit diprediksi.
"Sehubungan itu, para nelayan, agen perjalanan wisata dan wisatawan diminta untuk tetap mematuhi larangan mendekat ke gunung api aktif di Selat Sunda itu," katanya
"Meski dalam dua bulan terakhir gempa vulkaniknya tercatat rata-rata 50, dan umumnya gempa dangkal, namun statusnya belum diubah. Dengan demikian, larangan mendekat dalam radius 1-2 km dari gunung tersebut tetap diberlakukan," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Andi Suardi, saat dihubungi dari Bandarlampung, Rabu.
Ia menyebutkan kegempaan GAK kadang 13, 18 atau di bawah 100. Meski demikian, pemantauan tidak boleh diabaikan sehubungan statusnya yang sulit diprediksi.
"Kemarin tercatat 112 gempa vulkanik dangkal. Selain itu, juga terlihat asap setinggi 50-100 meter, mungkin terkena hujan saat permukaan gunung tersebut panas," katanya lagi.
Ia kembali menegaskan, meski kegempaan gunung api itu cenderung turun, namun kondisi Gunung Anak Krakatau sulit diprediksi.
"Sehubungan itu, para nelayan, agen perjalanan wisata dan wisatawan diminta untuk tetap mematuhi larangan mendekat ke gunung api aktif di Selat Sunda itu," katanya
Rabu, 15 Mei 2013
BPPLH Bantah Tak Serius
BANDARLAMPUNG – Badan Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandarlampung membantah tidak serius dalam menyelidiki dugaan pencemaran Way Balau oleh Rumah Sakit (RS) Graha Husada. Sebab, satuan itu masih menunggu hasil uji laboratorium air Way Balau. ’’Saat ini tak ada masalah yang berat. Kan airnya sudah kita cek. Tunggu saja hasilnya,” ujar Kepala BPPLH Bandarlampung Rejab usai menghadiri acara pemberian dana bantuan bedah rumah di Kecamatan Kemiling kemarin.
Dia meminta warga bersabar untuk menunggu hasil uji lab. Tersebut. Sebab, pihaknya dapat menindaklanjutinya setelah hasil uji lab. keluar. ’’Tunggu hasil uji laboratoriumnya keluar pekan depan. Sabarlah. Saya rasa bukan masalah yang berat,” tandasnya.
Diketahui, BPPLH Bandarlampung dinilai kurang serius dalam menangani persoalan limbah di kota ini. Itu terlihat dengan tidak adanya sikap tegas yang ditempuh satuan kerja tersebut.
Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung Bejoe Dewangga mengatakan, belum diberikannya sanksi tegas kepada RS Graha Husada yang limbahnya diduga telah mencemarkan Way Balau adalah salah satu bukti ketidakseriusan BBPPLH dalam menangani soal limbah lingkungan.
’’BPPLH itu kan tugasnya menangani persoalan limbah. Kalau tidak ada yang diberi sanksi, saya yakin perusahaan lain pasti mengikuti dengan membuang limbah ke sungai,” sesal Bejoe, Minggu (12/5).
Dia melanjutkan, pihaknya berharap BPPLH serius menangani masalah tersebut. ”Jangan sampai adanya limbah itu mengganggu aktivitas warga. Kalau ada warga yang sakit, bukan hanya RS yang bertanggung jawab, tetapi juga BPPLH karena tidak menangani masalah limbah ini,” ungkapnya.
Menurutnya, pengelolaan limbah medis bukanlah permasalahan yang mudah. ”Kalau ada yang mengetahui bagaimana dampak dari limbah medis, saya yakin tidak ada orang yang berani tinggal di sekitar RS, karena limbah medis sangat berbahaya dibandingkan dengan limbah yang lain,” katanya.
Dia meminta warga bersabar untuk menunggu hasil uji lab. Tersebut. Sebab, pihaknya dapat menindaklanjutinya setelah hasil uji lab. keluar. ’’Tunggu hasil uji laboratoriumnya keluar pekan depan. Sabarlah. Saya rasa bukan masalah yang berat,” tandasnya.
Diketahui, BPPLH Bandarlampung dinilai kurang serius dalam menangani persoalan limbah di kota ini. Itu terlihat dengan tidak adanya sikap tegas yang ditempuh satuan kerja tersebut.
Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung Bejoe Dewangga mengatakan, belum diberikannya sanksi tegas kepada RS Graha Husada yang limbahnya diduga telah mencemarkan Way Balau adalah salah satu bukti ketidakseriusan BBPPLH dalam menangani soal limbah lingkungan.
’’BPPLH itu kan tugasnya menangani persoalan limbah. Kalau tidak ada yang diberi sanksi, saya yakin perusahaan lain pasti mengikuti dengan membuang limbah ke sungai,” sesal Bejoe, Minggu (12/5).
Dia melanjutkan, pihaknya berharap BPPLH serius menangani masalah tersebut. ”Jangan sampai adanya limbah itu mengganggu aktivitas warga. Kalau ada warga yang sakit, bukan hanya RS yang bertanggung jawab, tetapi juga BPPLH karena tidak menangani masalah limbah ini,” ungkapnya.
Menurutnya, pengelolaan limbah medis bukanlah permasalahan yang mudah. ”Kalau ada yang mengetahui bagaimana dampak dari limbah medis, saya yakin tidak ada orang yang berani tinggal di sekitar RS, karena limbah medis sangat berbahaya dibandingkan dengan limbah yang lain,” katanya.
Minggu, 21 April 2013
Wabub OKUS: Terimakasih Pemkab Lampung Barat
Wakil Bupati Kabupaten OKU Selatan dr Hj Herawati Gatot Spm mengucapkan terimakasih atas kesediaan pemerintah Lampung Barat mengirimkan bantuan alat berat untuk membantu proses evakuasi korban tanah longsor hingga selesai.
“Kalau mereka tidak membantu mungkin evakuasi tidak akan selesai secepat ini. Namun dengan bantuan mereka akhir pencarian korban berhasil dilaksanakan sebelum ashar,” ungkap Herawati
Korban Widiyanto (16) warga Lampung yang merupakan korban terakhir ditemukan tidak jauh dari rekan-rekannya yang sudah ditemukan.
Widi ditemukan dalam keadaan meninggal dunia setelah tertimbun longsor sekitar 24 jam. Longsor terjadi sejak Jumat (5/4/2013) sekitar pukul 09.30 pagi.
Tim evakuasi korban berhasil menemukan Widi dengan posisi berdiri. Diduga korban terjebak dan tertimbun ketika berusaha menyelamatkan diri dari longsornya tebing yang selama ini digalinya bersama rekan-rekannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Puluhan Hektar Sawah Diserang Hama 'Tentara'
Ratusan petani yang ada di Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat dibuat bingung dengan serangan ulat berwarna seperti seragam tentara. Hama tersebut datang bak penyusup saat padi sedang berbuah, hingga membuat hasil panen puluhan tekter sawah menyusut drastis. Bahkan ulat tersebut hanya muncul pada malam hari saja, dan sembunyi pada siang hari. Meski sudah disemprot dengan pestisida, namun tetap tidak membuahkan hasil.
Kaluni (73), seorang petani, Minggu (21/4/2013) menjelaskan, hama ulat mulai muncul saat tanaman padinya berbuah. Awalnya jumlahnya sedikit, namun lama kelamaan menjadi banyak dan cepat sekali berkembang biak. Mereka memakan daun tanaman terutama di bagian ujung, bahkan hingga terputus. Sementera daun yang tersisa lama kelamaan berwarna kuning, lalu kemudian layu dan mati.
Ulat yang disebut warga hama tentara karena warnanya seperti baju tentara, lebih serang muncul pada malam hari. Sementera pada siang hari hanya ada beberapa saja yang muncul, sehingga tidak begitu tampak. Seluruh petani berupaya memberantas dengan menyemprotkan pestisida, namun usaha tersebut sia-sia. Hama tersebut seolah kebal, hingga menyebabkan banyak tanaman yang mati.
Akibatnya hasil panen mereka kini anjlok, dan menyebabkan kerugian. Biasanya satu hektar sawah milik Kaluni bisa menghasilkan tiga ton gabah kering, pada satu kali masa panen. Namun kini warga desa Gedung Agung Kecamatan Kota Agung ini hanya bisa membawa kurang dari dua ton gabah, hingga hasil yang didapat pas-pasan. Bila dihitung biaya masa tanam terutama membeli pupuk, pendapan yang diperoleh sangat sedikit.
"Ulat itu seperti tentara sungguhan, datangnya malam hari makan tanaman padi kami. Buah padi jadi tidak ada isinya, alias ampe," keluh Kaluni.
Sabtu, 26 Januari 2013
Longsor Putuskan Jalan
MUSI RAWAS - Akses jalan poros desa, yang menghubungkan Desa Maur dengan Bingin di Kecamatan Rupit, Mura, putus akibat longsor. Kondisi ini menurut warga sudah berlangsungdua tahun lamanya dan tak ada tindak lanjutnya.
Imron (28), warga Desa Maur mengatakan, meski sudah putus, namun kedua warga desa tetap saja melintas. Padahal, sudah ada jalan alternatif melalui jalan lintas yang tak jauh dari lokasi jalan lama. “Sekarang ini masih saja dilintasi meskipun sudah ada jalan alternatif. Harusnya, pihak kecamatan atau perangkat desa menutup jalan ini sebagai langkah antisipasi atau larangan melintas,” ujarnya.
Dikatakannya, putusnya akses jalan poros desa saat ini banyak dimanfaatkan warga sekitar sebagai lokasi pembuangan sampah. “Bahkan, pembuangan limbah atau bangkai ayam,” ujarnya.
Camat Rupit, Firdaus, mengaku sudah mengetahui putusnya akses jalan poros desa yang menghubungkan antara Desa Maur dengan Bingin. “Itu jalan mati. Sudah ada jalan lintas alternatifnya. Jadi, nanti akan ditutup,” jelasnya.
Untuk 2014, pihaknya berencana membuat akses jalan baru sebagai alternatif penghubung menggantikan akses jalan mati tersebut. “Memang untuk sementara ini warga kedua desa melintas di akses jalan lintas tak jauh dari lokasi,” ungkapnya.
Selain itu, Firdaus juga mengaku, pihaknya akan mengusahakan pembangunan akses jalan baru dipercepat. “Rencananya 2014 sudah masuk dalam anggaran APBD, mungkin ABT tahun ini akan saya usulkan lagi biar cepat terlaksana,” katanya.
Lima Tahun, Tambah 1.968 MW
PALEMBANG – Tren pertumbuhan pelanggan PT PLN (persero) wilayah S2JB terbilang fluktuatif, namun masih lebih rendah dibanding 2011. Menurut Manager Niaga Ir Rahimuddin, jika pada 2011 tercatat 278.205 pelanggan baru, maka sepanjang 2012 ada 245.547 pelanggan dan tahun ini direncanakan 246.949 pelanggan baru.
Ada dua sisi pembiayaan untuk penambahan pelanggan baru ini. Ada alokasi dana APBN untuk membiayai 23.868 pelanggan. “Sedangkan anggaran PLN (APLN), untuk membiayai 213.060 pelanggan umum, 9.800 perumahan dan 221 pelanggan besar,” jelasnya, kemarin. Total 246.949 pelanggan baru tersebut tersebar pada lima area pada tiga provinsi dalam wilayah kerja PLN WS2JB.
Rencana penambahan pada dua area di Sumsel 154.720 pelanggan, dimana Palembang dengan 78.719 pelanggan dan Lahat 76.001 pelanggan. Dua area di Jambi direncanakan ada penambahan 55.310 pelanggan, dimana 26.524 area Jambi dan 28.786 untuk area Muaro Bungo.
“Sedangkan area Bengkulu targetnya 28.786 pelanggan,” kata Rahimudin. Dengan target sebanyak itu, mau tidak mau PLN WS2JB harus menambah daya agar mampu menjaga keandalan penyaluran listrik kepada semua pelanggan.
Dalam rencana besar PLN, pada periode 2013-2017, PLN mengembangkan pembangkit di Sumsel yang mampu menghasilkan tambahan daya 1.968 megawatt (MW). “Rencana pengembangan pembangkit tersebut akan dilakukan oleh IPP (independent power purchased) skala besar. Beberapa titik dibangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU),”jelasnya.
Tahun ini, ada penambahan daya 86 MW dari PLTGU Keramasan. Sedangkan tahun depan, kata Rahimuddin, akan ada tambahan 457 MW di dua PLTU yakni, PLTU Sumsel-11 dan PLTU Banjarsari. Pada 2015 dan 2016, rencananya masuk daya sebesar 1.125 MW, dimana 525 MW pada 2015 dan 600 MW pada 2016. Penambahan daya tersebut akan dilakukan pada enam PLTU di Sumsel.“2015 ada tambahan daya dari tiga pembangkit, yakni PLTU Sumsel-2, Sumsel-5, dan Sumsel-7. Untuk 2016, masuk lagu tiga PLTU, PLTU Sumsel-5, Sumsel-7, serta Sumsel-6,”bebernya. Sementara sepanjang 2017, PLN akan melakukan penambahan satu PLTU yaitu PLTU Sumsel-6 dengan daya 300 MW.
Ada dua sisi pembiayaan untuk penambahan pelanggan baru ini. Ada alokasi dana APBN untuk membiayai 23.868 pelanggan. “Sedangkan anggaran PLN (APLN), untuk membiayai 213.060 pelanggan umum, 9.800 perumahan dan 221 pelanggan besar,” jelasnya, kemarin. Total 246.949 pelanggan baru tersebut tersebar pada lima area pada tiga provinsi dalam wilayah kerja PLN WS2JB.
Rencana penambahan pada dua area di Sumsel 154.720 pelanggan, dimana Palembang dengan 78.719 pelanggan dan Lahat 76.001 pelanggan. Dua area di Jambi direncanakan ada penambahan 55.310 pelanggan, dimana 26.524 area Jambi dan 28.786 untuk area Muaro Bungo.
“Sedangkan area Bengkulu targetnya 28.786 pelanggan,” kata Rahimudin. Dengan target sebanyak itu, mau tidak mau PLN WS2JB harus menambah daya agar mampu menjaga keandalan penyaluran listrik kepada semua pelanggan.
Dalam rencana besar PLN, pada periode 2013-2017, PLN mengembangkan pembangkit di Sumsel yang mampu menghasilkan tambahan daya 1.968 megawatt (MW). “Rencana pengembangan pembangkit tersebut akan dilakukan oleh IPP (independent power purchased) skala besar. Beberapa titik dibangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU),”jelasnya.
Tahun ini, ada penambahan daya 86 MW dari PLTGU Keramasan. Sedangkan tahun depan, kata Rahimuddin, akan ada tambahan 457 MW di dua PLTU yakni, PLTU Sumsel-11 dan PLTU Banjarsari. Pada 2015 dan 2016, rencananya masuk daya sebesar 1.125 MW, dimana 525 MW pada 2015 dan 600 MW pada 2016. Penambahan daya tersebut akan dilakukan pada enam PLTU di Sumsel.“2015 ada tambahan daya dari tiga pembangkit, yakni PLTU Sumsel-2, Sumsel-5, dan Sumsel-7. Untuk 2016, masuk lagu tiga PLTU, PLTU Sumsel-5, Sumsel-7, serta Sumsel-6,”bebernya. Sementara sepanjang 2017, PLN akan melakukan penambahan satu PLTU yaitu PLTU Sumsel-6 dengan daya 300 MW.
Kamis, 08 November 2012
Banjir Ancam Ratusan Petak Sawah
Hujan lebat yang terjadi dalam seminggu terakhir di Luhak 50 Kota, Kota Payakumbuh Kabupaten 50 Kota membuat ratusan petak sawah yang baru ditanam petani terancam tidak tumbuh dengan baik. Sebab, beberapa batang air dan sungai di Kabupaten 50 Kota meluap.
Salah satunya Batang Harau yang terdapat di Kenagarian Batu Balang Kecamatan Harau Kabupaten 50 Kota, air yang meluap tersebut mengenangi beberapa petak sawah warga yang berada di dekat Batang Harau tersebut, genangan air tersebut bakal berakibat fatal, sebab sawah yang baru ditanami petani sudah terendam air.
Bahkan diperkirakan tinggi air sudah melebihi batas normal. Salah seorang warga sekitar AM Datuak (42), menuturkan bahwa kejadian serupa telah terjadi berulang kali setiap tahunnya, namun warga tidak dapat berbuat banyak."Luapan air kali ini cukup besar, kincir air yang selama ini digunakan warga untuk mengaliri sawah jika musim kemarau, terancam hanyut oleh tingginya volume air yang terjadi akibat deras aliran sungai".
Sejumlah petani berharap agar adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten untuk mengatasi permasalahan yang kerap terjadi ini.
Selasa, 26 Juni 2012
LINGKUNGAN HIDUP : Pengelolaan Tahura Tiru Sistem di Bunaken
BANDAR LAMPUNG, Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdurrahman di Lempasing akan meniru sistem yang dilakukan Taman Bunaken, Sulawesi Utara. Ketua Komisi II DPRD Lampung Ahmad Junaidi Auly, Selasa (24-1), mengatakan sistem kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan Taman Hutan Raya sudah diberlakukan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara (Bunaken). Namun, kedua daerah tersebut tidak memiliki perda. Rencananya sistem yang digunakan di dua daerah tersebut diadopsi di Lampung dan dituangkan dalam peraturan daerah.
Menurut Junaidi, beberapa pemangku kepentingan, termasuk perwakilan masyarakat dan LSM, telah memberikan masukan dan mewacanakan pembentukan tim pengelola Tahura Wan Abdurrahman. Namun, menurut Junaidi, hal itu akan dibahas lebih lanjut setelah Pansus selesai mengumpulkan data mengenai Tahura tersebut.
"Bagaimana penerapan sistem di Bunaken ke Tahura Wan Absurrahman, teknisnya nanti diatur dalam perda," ujar Junaidi. Komisi II DPRD Lampung bertindak sebagai Pansus yang membahas Raperda Pengelolaan Tahura Wara Berbasis Kemasyarakatan dan Raperda tentang Rencana Induk Pariwisata Daerah (Ripda).
Menurut Junaidi, pembahasan draf raperda pasal per pasal belum dilakukan karena menunggu sampai masukan dari masyarakat dan data yang dimiliki Pansus dirasa cukup. Namun, kata dia, target pembahasan hingga 20 Februari 2012 akan dipenuhi.
Junaidi mengatakan mengenai Raperda Ripda ada permintaan agar masyarakat juga dilibatkan dalam pengelolaan kawasan wisata. Menurut Junaidi, hal ini perlu dirumuskan teknisnya terlebih dahulu dengan mempertimbangkan masukan dari segenap pemangku kepentingan dan melihat aturan yang sudah ada.
Raperda sudah harus masuk paripurna 20 Februari 2012. Sebelum finalisasi kami akan bahas per pasal. Tetapi kami akan mengumpulkan data yang diperlukan terlebih dahulu,” kata dia.
Pembahasan Raperda Perizinan Satu Atap, menurut anggota Komisi I DPRD Lampung Ahmad Bastari, diperkirakan baru selesai pada akhir Februari 2012. Saat ini Pansus terus menjadwalkan rapat dengar pendapat dengan pihak terkait.
Akhir Februari mudah-mudahan sudah selesai. Pembahasan per pasal belum ada, baru rapat dengar pendapat dengan pihak terkait,” kata mantan wartawan Lampung Post itu.
Menurut Junaidi, beberapa pemangku kepentingan, termasuk perwakilan masyarakat dan LSM, telah memberikan masukan dan mewacanakan pembentukan tim pengelola Tahura Wan Abdurrahman. Namun, menurut Junaidi, hal itu akan dibahas lebih lanjut setelah Pansus selesai mengumpulkan data mengenai Tahura tersebut.
"Bagaimana penerapan sistem di Bunaken ke Tahura Wan Absurrahman, teknisnya nanti diatur dalam perda," ujar Junaidi. Komisi II DPRD Lampung bertindak sebagai Pansus yang membahas Raperda Pengelolaan Tahura Wara Berbasis Kemasyarakatan dan Raperda tentang Rencana Induk Pariwisata Daerah (Ripda).
Menurut Junaidi, pembahasan draf raperda pasal per pasal belum dilakukan karena menunggu sampai masukan dari masyarakat dan data yang dimiliki Pansus dirasa cukup. Namun, kata dia, target pembahasan hingga 20 Februari 2012 akan dipenuhi.
Junaidi mengatakan mengenai Raperda Ripda ada permintaan agar masyarakat juga dilibatkan dalam pengelolaan kawasan wisata. Menurut Junaidi, hal ini perlu dirumuskan teknisnya terlebih dahulu dengan mempertimbangkan masukan dari segenap pemangku kepentingan dan melihat aturan yang sudah ada.
Raperda sudah harus masuk paripurna 20 Februari 2012. Sebelum finalisasi kami akan bahas per pasal. Tetapi kami akan mengumpulkan data yang diperlukan terlebih dahulu,” kata dia.
Pembahasan Raperda Perizinan Satu Atap, menurut anggota Komisi I DPRD Lampung Ahmad Bastari, diperkirakan baru selesai pada akhir Februari 2012. Saat ini Pansus terus menjadwalkan rapat dengar pendapat dengan pihak terkait.
Akhir Februari mudah-mudahan sudah selesai. Pembahasan per pasal belum ada, baru rapat dengar pendapat dengan pihak terkait,” kata mantan wartawan Lampung Post itu.
Senin, 11 April 2011
Banjir Landa Agam dan Bukittinggi
BUKITTINGGI, - Banjir melanda di ruas jalan Kabupaten Agam - Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, akibat luapan air hujan dari jaringan parit yang tersumbat.
"Sudah biasa seperti ini, tiap turun hujan lebat, air dari jaringan parit yang tersumbat meluap hingga ke badan jalan setinggi 30 centimeter dan juga mengalir ke perumahan warga," kata Dasril, warga Jambu Aie, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Minggu.
Dasril mengatakan warga yang bermukim di sepanjang jalan Padangpanjang - Kota Bukittinggi merasa tidak nyaman terlebih saat hujan deras seperti yang terjadi pada Sabtu (12/3) sore hingga malam hari.
Ia mengatakan warga siaga karena air sudah memasuki halaman rumah bahkan ke lantai dalam rumah.
Bahkan, pada salah satu pemukiman di Nagari Birugo terdapat satu unit kendaraan pemadam kebakaran membantu menyedot air dari jaringan parit.
Warga bermukim di sisi ruas jalan itu, juga tampak ikut membantu membersihkan jaringan parit yang tersumbat sampah itu.
Badan jalan dan lingkungan permukiman penduduk yang dilanda banjir mulai dari Nagari Padang Lua - Jambu Aie (Kabupaten Agam) - Birugo (Kota Bukittinggi).
"Lebar parit itu sudah berkurang (menyempit) akibat bangunan di pinggir jalan itu," kata Dasril.
Jaringan parit itu, selain menampung air limbah dari permukiman penduduk mulai dari Nagari Padang Lua, Jambuaie, hingga memasuki Kota Bukittinggi.
"Sudah biasa seperti ini, tiap turun hujan lebat, air dari jaringan parit yang tersumbat meluap hingga ke badan jalan setinggi 30 centimeter dan juga mengalir ke perumahan warga," kata Dasril, warga Jambu Aie, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Minggu.
Dasril mengatakan warga yang bermukim di sepanjang jalan Padangpanjang - Kota Bukittinggi merasa tidak nyaman terlebih saat hujan deras seperti yang terjadi pada Sabtu (12/3) sore hingga malam hari.
Ia mengatakan warga siaga karena air sudah memasuki halaman rumah bahkan ke lantai dalam rumah.
Bahkan, pada salah satu pemukiman di Nagari Birugo terdapat satu unit kendaraan pemadam kebakaran membantu menyedot air dari jaringan parit.
Warga bermukim di sisi ruas jalan itu, juga tampak ikut membantu membersihkan jaringan parit yang tersumbat sampah itu.
Badan jalan dan lingkungan permukiman penduduk yang dilanda banjir mulai dari Nagari Padang Lua - Jambu Aie (Kabupaten Agam) - Birugo (Kota Bukittinggi).
"Lebar parit itu sudah berkurang (menyempit) akibat bangunan di pinggir jalan itu," kata Dasril.
Jaringan parit itu, selain menampung air limbah dari permukiman penduduk mulai dari Nagari Padang Lua, Jambuaie, hingga memasuki Kota Bukittinggi.
Rabu, 12 Januari 2011
Gelombang 0,8 Meter di Timur Lampung
BANDAR LAMPUNG, Nelayan yang biasa mencari ikan di perairan timur Lampung harus hati-hati saat melaut. Stasiun Meteorologi Maritim Lampung memprediksi akan terjadi gelombang tinggi di perairan timur Lampung.
"Untuk besok, prediksi kami perairan di timur Lampung ketinggian gelombangnya sekitar 0,8 meter," kata Kepala Kelompok Analisa Prakiraan Stasiun Meteorologi Maritim Lampung Neneng Kusrini, Rabu (12/1/2011).
Standar tinggi gelombang di perairan itu mencapai 0,5 meter. Neneng mengatakan, peningkatan tinggi gelombang yang bisa mencapai 0,3 meter berbahaya bagi pelayaran kapal-kapal kecil.
"Nelayan di wilayah tersebut lebih hati-hati, karena gelombangnya cukup tinggi," pesannya
"Untuk besok, prediksi kami perairan di timur Lampung ketinggian gelombangnya sekitar 0,8 meter," kata Kepala Kelompok Analisa Prakiraan Stasiun Meteorologi Maritim Lampung Neneng Kusrini, Rabu (12/1/2011).
Standar tinggi gelombang di perairan itu mencapai 0,5 meter. Neneng mengatakan, peningkatan tinggi gelombang yang bisa mencapai 0,3 meter berbahaya bagi pelayaran kapal-kapal kecil.
"Nelayan di wilayah tersebut lebih hati-hati, karena gelombangnya cukup tinggi," pesannya
Langganan:
Postingan (Atom)