Panitia Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-25 di Batam, 6 Juni mendatang menyiapkan enam toilet mobile (bergerak, red) yang akan ditempatkan sejumlah titik di sekitar lokasi kegiatan.
”Dari jumlah tersebut, satu toilet mobile tersebut khusus untuk tamu very important person (VIP). Sedangkan yang lainnya khusus untuk pengunjung,” ujar Kepala Biro Perlengkapan Pemprov Kepri Martin L Maromon kepada sejumlah wartawan di Kantor Gubernur Kepri di Dompak, belum lama ini.
Lebih lanjut, mantan Kabag Protokoler Pemko Batam tersebut mengatakan selain dipinjam dari Pemko Batam, toilet mobile tersebut didatangkan dari Kabupaten Karimun dan Kota Tanjungpinang. Sebab, jumlah toilet mobile milik Pemko Batam sangat terbatas.
”Kita tahu, akan ada ribuan orang yang datang ke lokasi. Toilet tentu merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan. Apalagi, toliet existing juga terbatas jumlahnya,” jelas Martin.
Menjelang MTQ Nasional yang sudah semakin dekat, Gubernur Kepri HM Sani terus melakukan rapat evaluasi dan pematangan kegiatan. Apalagi, sebagai tuan rumah, Kepri ingin mengemas kegiatan dua tahunan ini layaknya seperti MTQ tingkat internasional. Kegiatan yang disejalankan dengan Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) tersebut, akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Batam akan merazia gelandangan, pengemis (Gepeng) serta anak jalanan menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-25 di Batam .
“Minggu depan kita gelar razia pekat (penyakit masyarakat) yakni gepeng, anak jalanan, serta anak punk,” ungkap Kasatpol PP Kota Batam, Hendri, Jumat (10/4).
Menurutnya, sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam, gepeng dan anak jalanan tidak diperbolehkan berada di ruas jalan. Karena keberadaanya mengganggu keamanan, kenyamanan dan ketertiban. “Bukan karena MTQ, memang gepeng dan anak jalanan tidak diperbolehkan,” ungkap Hendri.
Apalagi, dalam hajatan MTQ seluruh delegasi dari berbagai provinsi serta negara sahabat akan hadir. “Seluruh jalan protokol, serta wilayah startegis harus bersih dari gepeng dan anak jalanan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu Hendri menjelaskan bahwa razia pekat merupakan kegiatan rutin Satpol PP Kota Batam. Banyak anak jalanan, PSK, waria, anak punk yang terjaring. Seluruh gepeng dan anak jalanan kemudian didata pihak dinsos untuk diberikan pembinaan agar mempunyai keahlian.
Sebelumnya, Gubernur Kepri HM Sani menyurati Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan terkait persiapan pelaksanaan MTQ Nasional. Gubernur mengajukan lima permintaan, di antaranya menjaga ketertiban dan estetika kawasan, mengatur zona serta petugas parkir. Mengatur gelandangan, pengemis dan pengamen jalanan yang makin banyak dan mangkal di simpang strategis.
“MTQ Nasional kan banyak tamu, jangan sampai gepeng juga tambah banyak,” ujar Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kepri, Guntur Sakti.
Rangkaian kegiatan MTQ Nasional itu, ditandai dengan pelaksaan pawai taaruf yang rencananya dibuka Menteri Agama Suryadharma Ali, satu hari sebelum pembukaan MTQ.
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 April 2014
Senin, 12 Agustus 2013
Penjual Kembang Kuburan Mengais Rezeki di Hari Lebaran
Hari raya Idul Fitri atau berlebaran, menjadi berkah bagi penjual kembang kuburan yang biasa menjajahkan barang dagangannya di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Salah satunya bagi Cik Iyu (62), salah satu penjual kembang kuburan bagi warga yang datang untuk berziarah di TPU KambojaPalembang.
"Cuma hari lebaran ini kembang kami laku banyak. Alhamdulillah lebaran pertama dapat duit Rp 400 ribu dan modalnya Rp150 ribu. Biasanya saya jualan tiap hari Jumat cuma dapat paling banyak Rp30 ribu," ujar Cik Iyu, ketika dibincangi Sripoku.com saat menjajakan kembang di pinggiran jalan TPU Kamboja Palembang, Jumat (9/8/2013).
Diakui janda lima anak yang sudah memiliki 20 cucu dan tiga cicit ini, profesi penjual kembang kuburan sudah dilakoninya 30 tahun lebih. Bahkan separuh umur hidupnya ini bergantung sebagai penjual kembang kuburan semenjak ditinggal suaminya yang meninggal dunia.
"Dana BLSM saya tidak dapat, jadi jual kembang inilah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lebaran ini, anak-anak yang sanjo di kuburan tempat saya jualan. Sejak tahun 1980 saya sudah jualan kembang kuburan dan cuma lebaran yang ramai pembelinya. Jualannya dari jam setengah enam pagi sampai jam enam sore," ujar wanita tua yang tercatat sebagai warga Jalan Kamboja Lorong Sehat RT 21 RW 08 Kelurahan 20 Ilir Kecamatan IT I Palembang.
"Cuma hari lebaran ini kembang kami laku banyak. Alhamdulillah lebaran pertama dapat duit Rp 400 ribu dan modalnya Rp150 ribu. Biasanya saya jualan tiap hari Jumat cuma dapat paling banyak Rp30 ribu," ujar Cik Iyu, ketika dibincangi Sripoku.com saat menjajakan kembang di pinggiran jalan TPU Kamboja Palembang, Jumat (9/8/2013).
Diakui janda lima anak yang sudah memiliki 20 cucu dan tiga cicit ini, profesi penjual kembang kuburan sudah dilakoninya 30 tahun lebih. Bahkan separuh umur hidupnya ini bergantung sebagai penjual kembang kuburan semenjak ditinggal suaminya yang meninggal dunia.
"Dana BLSM saya tidak dapat, jadi jual kembang inilah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lebaran ini, anak-anak yang sanjo di kuburan tempat saya jualan. Sejak tahun 1980 saya sudah jualan kembang kuburan dan cuma lebaran yang ramai pembelinya. Jualannya dari jam setengah enam pagi sampai jam enam sore," ujar wanita tua yang tercatat sebagai warga Jalan Kamboja Lorong Sehat RT 21 RW 08 Kelurahan 20 Ilir Kecamatan IT I Palembang.
Jumat, 24 Mei 2013
Konser "Akulah Indonesia" Tayang di TVRI Lampung
Bandarlampung - Konser "Akulah Indonesia" untuk kampanye kemanusiaan, hadir di TVRI Lampung dalam bentuk program tayang ulang pada Sabtu (11/5) pukul 15.00 WIB.
Menurut Trisnowati Josiah atau Iwa TJ, komposer Lampung pencipta 19 lagu untuk Konser "Akulah Indonesia", di Bandarlampung, Jumat (10/5), tayangan berdurasi satu jam itu diharapkan dapat disaksikan warga Lampung yang tidak sempat menyaksikan pertunjukan secara langsung di Graha Wangsa pada pekan lalu (3/5).
Iwa mengatakan, materi konser akan disiarkan ulang dua kali.
Pada tayang ulang perdana, Sabtu (11/5) menampilkan 12 lagu, antara lain Princes of Life, Der Segen, Kau dan Aku Tahu, Hujan Turun di Taman, Hutan Rumah Kita, Serenada Rumah Embun, Sejuta Camar, Marak Cahaya, Airyara, Thunder, Api Kemerdekaan, dan Akulah Indonesia.
"Dalam siaran ulang itu, publik di Lampung akan tahu keseriusan kami menggarap sebuah orkestra. Bagi publik Lampung, orkestra memang belum begitu akrab. Namun, inilah upaya kami untuk mengajak publik mengakrapi salah satu cabang seni sekaligus mengkampanyekan penting dapat memelihara pluralisme dan semangat nasionalisme," kata Iwa pula.
Selain lagu-lagu bertema sehari-hari, melalui penayangan perdana di TVRI itu, penonton di Lampung akan menyaksikan semangat sekelompok kakek-kakek dan nenek-nenek anggota Paduan Suara Sin Hoa menyanyikan lagu Api Kemerdekaan dan Akulah Indonesia.
"Sebuah pertunjukan seni untuk sebuah kampanye kemanusiaan memang tidak boleh hanya terhenti pada satu kali pertunjukan. Harus ada tindaklanjut yang jelas. Tayang ulang di TVRI adalah upaya awal kami menindaklanjuti kampanye tentang pluralisme dan nasionalisme," kata dia lagi.
Iwa menegaskan, selain siaran ulang di TVRI Lampung, pihaknya akan terus melanjutkan kampanye tentang pluralisme dan nasionalisme Indonesia melalui lagu "Akulah Indonesia" tersebut.
Dia berharap, lagu yang penciptaannya terinspirasi oleh Sumpah Pemuda itu, akan terus disebarluaskan kepada publik yang lebih luas.
"Tidak hanya di Lampung, tetapi di seluruh Indonesia. Atas saran Bang Bens Leo musisi nasional, lagu 'Akulah Indonesia' akan direkam ulang dan dinyanyikan oleh penyanyi Lampung atau penyanyi terkenal dari Jakarta. Setelah itu akan kami perkenalkan ke beberapa daerah," ujar dia lagi.
Ia berharap, dukungan pertama berasal dari Lampung, seperti dari Pemerintah Provinsi Lampung atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung.
"Semua yang kami lakukan, termasuk konser yang kemarin, semata-mata demi kemanusiaan. Kami tidak menghitung profit. Itulah salah satu bentuk kecintaan saya dan teman-teman semua kepada Indonesia," ujar Iwa TJ pula.
Menurut Trisnowati Josiah atau Iwa TJ, komposer Lampung pencipta 19 lagu untuk Konser "Akulah Indonesia", di Bandarlampung, Jumat (10/5), tayangan berdurasi satu jam itu diharapkan dapat disaksikan warga Lampung yang tidak sempat menyaksikan pertunjukan secara langsung di Graha Wangsa pada pekan lalu (3/5).
Iwa mengatakan, materi konser akan disiarkan ulang dua kali.
Pada tayang ulang perdana, Sabtu (11/5) menampilkan 12 lagu, antara lain Princes of Life, Der Segen, Kau dan Aku Tahu, Hujan Turun di Taman, Hutan Rumah Kita, Serenada Rumah Embun, Sejuta Camar, Marak Cahaya, Airyara, Thunder, Api Kemerdekaan, dan Akulah Indonesia.
"Dalam siaran ulang itu, publik di Lampung akan tahu keseriusan kami menggarap sebuah orkestra. Bagi publik Lampung, orkestra memang belum begitu akrab. Namun, inilah upaya kami untuk mengajak publik mengakrapi salah satu cabang seni sekaligus mengkampanyekan penting dapat memelihara pluralisme dan semangat nasionalisme," kata Iwa pula.
Selain lagu-lagu bertema sehari-hari, melalui penayangan perdana di TVRI itu, penonton di Lampung akan menyaksikan semangat sekelompok kakek-kakek dan nenek-nenek anggota Paduan Suara Sin Hoa menyanyikan lagu Api Kemerdekaan dan Akulah Indonesia.
"Sebuah pertunjukan seni untuk sebuah kampanye kemanusiaan memang tidak boleh hanya terhenti pada satu kali pertunjukan. Harus ada tindaklanjut yang jelas. Tayang ulang di TVRI adalah upaya awal kami menindaklanjuti kampanye tentang pluralisme dan nasionalisme," kata dia lagi.
Iwa menegaskan, selain siaran ulang di TVRI Lampung, pihaknya akan terus melanjutkan kampanye tentang pluralisme dan nasionalisme Indonesia melalui lagu "Akulah Indonesia" tersebut.
Dia berharap, lagu yang penciptaannya terinspirasi oleh Sumpah Pemuda itu, akan terus disebarluaskan kepada publik yang lebih luas.
"Tidak hanya di Lampung, tetapi di seluruh Indonesia. Atas saran Bang Bens Leo musisi nasional, lagu 'Akulah Indonesia' akan direkam ulang dan dinyanyikan oleh penyanyi Lampung atau penyanyi terkenal dari Jakarta. Setelah itu akan kami perkenalkan ke beberapa daerah," ujar dia lagi.
Ia berharap, dukungan pertama berasal dari Lampung, seperti dari Pemerintah Provinsi Lampung atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung.
"Semua yang kami lakukan, termasuk konser yang kemarin, semata-mata demi kemanusiaan. Kami tidak menghitung profit. Itulah salah satu bentuk kecintaan saya dan teman-teman semua kepada Indonesia," ujar Iwa TJ pula.
Festival Musik Akbar X Darmajaya Siap Digelar
Bandarlampung - Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Musik (UKMBS Musik) Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya siap menggelar audisi band Festival Musik Akbar X bertemakan "Story of Journey 10th" pada 1 Juni mendatang di lima kota di Provinsi Lampung.
Festival Musik Akbar yang telah berusia satu dekade ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis XVI IBI Darmajaya, menurut Wakil Rektor III Novita Sari, S.Sos, M.M, didampingi Kepala Biro Kemahasiswaan Muprihan Thaib, S.Sos.,M.M., di Bandarlampung, Kamis (23/5), adalah event tahunan UKMBS Musik IBI Darmajaya.
"Festival musik ini merupakan ajang positif dalam mengimplementasikan bibit, minat, dan bakat para pemusik dan generasi muda di Lampung sehingga bisa bersaing dengan musisi nasional," ujar dia.
Ketua UKMBS Musik Rizki Pramajaya mengutarakan, Festival Musik Akbar X terdiri dari rangkaian kegiatan mulai dari audisi per 1 Juni 2013 hingga grand final pada 15 Juni mendatang.
"Memasuki usia satu dekade, tahun ini kami menggelar festival musik akbar dengan konsep yang berbeda dan spesial. Mulai dari tema, konsep acara, hingga pengisi acara dan special guest star-nya," ujarnya.
Menurut Rizki, seperti audisi peserta, akan menggelar pada lima kota berbeda di Provinsi Lampung yaitu Bandarlampung, Metro, Pringsewu, Kalianda, dan Kotabumi.
"Hal itu karena kami ingin mengakomodir animo dan antusiasme peserta yang cukup banyak dari tahun sebelumnya yang hanya di tiga kota, yaitu Metro, Pringsewu, dan Bandarlampung," kata Rizki.
Selain itu, tidak hanya berupa festival musik namun akan ada juga hiburan free style sepeda BMX serta turnamen PS, katanya pula.
Dia menambahkan, para peserta berasal dari kalangan umum dengan ketentuan usia para peserta minimal 18 tahun, dan panitia akan memperlombakan beragam genre musik.
Ia menyatakan bahwa saat ini sudah banyak peserta yang mendaftar baik dari kota Bandarlampung dan kota-kota lainnya.
Bagi peserta yang ingin menanyakan lebih lanjut tentang festival tersebut, dapat menghubungi panitia yaitu Febi (Hp.087899513161) dan Yudi (Hp.089631508383).
Para finalis akan memperebutkan juara I, II, III dan the best player (gitaris, bassist, vokalis, drummer).
"Panitia juga akan menghadirkan bintang tamu band lokal, seperti homeband UKMBS Musik Darmajaya, Blueberry, Teh Manis, Artery, Paniq Doskii, namun untuk special guest star panitia masih merahasiakan karena akan memberikan kejutan," ujar Rizki lagi.
Pihaknya berharap melalui ajang ini, Festival Musik Akbar Darmajaya semakin dikenal di Lampung bahkan hingga tingkat nasional.
"Kami berharap ajang ini dapat membuat UKMBS Musik semakin eksis dari tahun ke tahun, dan bisa menjadi tempat menyalurkan bakat musiknya dari beragam genre seperti rock n roll, rock, pop, metal, jazz, reggae, dan lainnya," ujar dia pula.
Selain itu, mengarahkan para generasi muda Lampung untuk mandiri dalam menciptakan kegiatan yang positif, kemudian sebagai sarana penyalur aspirasi dan pengembangan bakat di bidang musik, serta meningkatkan kreativitas generasi muda di Lampung dalam bermusik, kata Rizki.
Menurut mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ini, event tersebut juga dapat membangkitkan semangat para musisi, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa di Lampung, agar lebih memiliki kreativitas, intelektualitas, dan modernisasi dalam bermusik.
Festival Musik Akbar yang telah berusia satu dekade ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis XVI IBI Darmajaya, menurut Wakil Rektor III Novita Sari, S.Sos, M.M, didampingi Kepala Biro Kemahasiswaan Muprihan Thaib, S.Sos.,M.M., di Bandarlampung, Kamis (23/5), adalah event tahunan UKMBS Musik IBI Darmajaya.
"Festival musik ini merupakan ajang positif dalam mengimplementasikan bibit, minat, dan bakat para pemusik dan generasi muda di Lampung sehingga bisa bersaing dengan musisi nasional," ujar dia.
Ketua UKMBS Musik Rizki Pramajaya mengutarakan, Festival Musik Akbar X terdiri dari rangkaian kegiatan mulai dari audisi per 1 Juni 2013 hingga grand final pada 15 Juni mendatang.
"Memasuki usia satu dekade, tahun ini kami menggelar festival musik akbar dengan konsep yang berbeda dan spesial. Mulai dari tema, konsep acara, hingga pengisi acara dan special guest star-nya," ujarnya.
Menurut Rizki, seperti audisi peserta, akan menggelar pada lima kota berbeda di Provinsi Lampung yaitu Bandarlampung, Metro, Pringsewu, Kalianda, dan Kotabumi.
"Hal itu karena kami ingin mengakomodir animo dan antusiasme peserta yang cukup banyak dari tahun sebelumnya yang hanya di tiga kota, yaitu Metro, Pringsewu, dan Bandarlampung," kata Rizki.
Selain itu, tidak hanya berupa festival musik namun akan ada juga hiburan free style sepeda BMX serta turnamen PS, katanya pula.
Dia menambahkan, para peserta berasal dari kalangan umum dengan ketentuan usia para peserta minimal 18 tahun, dan panitia akan memperlombakan beragam genre musik.
Ia menyatakan bahwa saat ini sudah banyak peserta yang mendaftar baik dari kota Bandarlampung dan kota-kota lainnya.
Bagi peserta yang ingin menanyakan lebih lanjut tentang festival tersebut, dapat menghubungi panitia yaitu Febi (Hp.087899513161) dan Yudi (Hp.089631508383).
Para finalis akan memperebutkan juara I, II, III dan the best player (gitaris, bassist, vokalis, drummer).
"Panitia juga akan menghadirkan bintang tamu band lokal, seperti homeband UKMBS Musik Darmajaya, Blueberry, Teh Manis, Artery, Paniq Doskii, namun untuk special guest star panitia masih merahasiakan karena akan memberikan kejutan," ujar Rizki lagi.
Pihaknya berharap melalui ajang ini, Festival Musik Akbar Darmajaya semakin dikenal di Lampung bahkan hingga tingkat nasional.
"Kami berharap ajang ini dapat membuat UKMBS Musik semakin eksis dari tahun ke tahun, dan bisa menjadi tempat menyalurkan bakat musiknya dari beragam genre seperti rock n roll, rock, pop, metal, jazz, reggae, dan lainnya," ujar dia pula.
Selain itu, mengarahkan para generasi muda Lampung untuk mandiri dalam menciptakan kegiatan yang positif, kemudian sebagai sarana penyalur aspirasi dan pengembangan bakat di bidang musik, serta meningkatkan kreativitas generasi muda di Lampung dalam bermusik, kata Rizki.
Menurut mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ini, event tersebut juga dapat membangkitkan semangat para musisi, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa di Lampung, agar lebih memiliki kreativitas, intelektualitas, dan modernisasi dalam bermusik.
Selasa, 07 Mei 2013
Refleksi Perjuangan Ibu
Untuk menanamkan kesadaran kepada generasi muda terhadap perjuangan ibu yang melahirkan serta merawat anaknya, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan menggelar lomba fotografi dan desain poster digital antar mahasiswa se-Sumsel yang bertemakan "Giving Love for Mom". Kegiatan tersebut berpusat di Ballroom Hotel Swarna Dwipa Jalan Tasik Kambang Iwak Palembang, Senin (6/5).
"Sebenarnya kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Kartini, dimana dari sosok Kartini kita bisa mengetahui bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan kebebasan sebagai seorang perempuan. Namun tidak hanya itu yang ingin kita dapatkan, kita inginkan generasi muda saat ini sadar akan perjuangan dari orang tua mereka khususnya ibu yang telah berjuang untuk anaknya," ungkap Ketua Penyelenggara, Erwan Suryanegara, dibincangi wartawan, kemarin.
Menurut Erwan, dari tema yang diangkat, pada kegiatan ini Disdik Sumsel mencoba memaknai Hari Kartini itu bukan hanya mengenai perjuangan sebagai perempuan. Akan tetapi mengingatkan pada generasi muda khususnya mahasiswa untuk perlu memberikan kasih sayang kepada orang tua khususnya ibu.
"Kita mengangkat tema yang sedemikian rupa itu bukan berarti karena saat ini generasi muda sudah luntur kasih sayang terhadap orang tua, melainkan kita menginginkan kepada generasi muda supaya bukan hanya mengingat perjuangan seorang kartini akan tetapi bagaimana seorang anak mengingat perjuangan seorang ibu. Sesuai dengan syurga berada dibawah telapak kaki ibu dan patut kita sadarkan itu," lanjutnya.
Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumsel ini, diikuti oleh 80 orang mahasiswa untuk lomba fotografi dan 60 orang mahasiswa untuk lomba poster. Adapun daerah yang mengirimkan perwakilan pesertanya yakni dari Pagaralam, OKU Timur, Muara Enim, Lahat dan Musi Rawas.
"Kita ingin generasi muda sadar bahwa seorang ibu tidak bisa diabaikan, peran ibu itu bisa menjadi kepala rumah tangga bisa mencari nafkah. Juga menanamkan kesadaran kepada anak, karena banyak fenomena ibu diabaikan kalau sudah menginjak usia tua. Kemudian juga diharapkan bisa meminimalisir kekerasan dalam rumah tangga, perempuan itu bunga syurga dan bunga dunia," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Sumsel, Widodo, sangat mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Meskipun baru pertama kalinya, namun dirinya menginginkan kegiatan semacam ini bisa menjadi program rutin Disdik Sumsel.
"Ini kegiatan pertama kali dan menurut rencana akan menjadi agenda tahunan ke depannya. Karena kegiatan seperti ini menyentuh generasi muda secara langsung," harapnya.
"Sebenarnya kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Kartini, dimana dari sosok Kartini kita bisa mengetahui bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan kebebasan sebagai seorang perempuan. Namun tidak hanya itu yang ingin kita dapatkan, kita inginkan generasi muda saat ini sadar akan perjuangan dari orang tua mereka khususnya ibu yang telah berjuang untuk anaknya," ungkap Ketua Penyelenggara, Erwan Suryanegara, dibincangi wartawan, kemarin.
Menurut Erwan, dari tema yang diangkat, pada kegiatan ini Disdik Sumsel mencoba memaknai Hari Kartini itu bukan hanya mengenai perjuangan sebagai perempuan. Akan tetapi mengingatkan pada generasi muda khususnya mahasiswa untuk perlu memberikan kasih sayang kepada orang tua khususnya ibu.
"Kita mengangkat tema yang sedemikian rupa itu bukan berarti karena saat ini generasi muda sudah luntur kasih sayang terhadap orang tua, melainkan kita menginginkan kepada generasi muda supaya bukan hanya mengingat perjuangan seorang kartini akan tetapi bagaimana seorang anak mengingat perjuangan seorang ibu. Sesuai dengan syurga berada dibawah telapak kaki ibu dan patut kita sadarkan itu," lanjutnya.
Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumsel ini, diikuti oleh 80 orang mahasiswa untuk lomba fotografi dan 60 orang mahasiswa untuk lomba poster. Adapun daerah yang mengirimkan perwakilan pesertanya yakni dari Pagaralam, OKU Timur, Muara Enim, Lahat dan Musi Rawas.
"Kita ingin generasi muda sadar bahwa seorang ibu tidak bisa diabaikan, peran ibu itu bisa menjadi kepala rumah tangga bisa mencari nafkah. Juga menanamkan kesadaran kepada anak, karena banyak fenomena ibu diabaikan kalau sudah menginjak usia tua. Kemudian juga diharapkan bisa meminimalisir kekerasan dalam rumah tangga, perempuan itu bunga syurga dan bunga dunia," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Sumsel, Widodo, sangat mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Meskipun baru pertama kalinya, namun dirinya menginginkan kegiatan semacam ini bisa menjadi program rutin Disdik Sumsel.
"Ini kegiatan pertama kali dan menurut rencana akan menjadi agenda tahunan ke depannya. Karena kegiatan seperti ini menyentuh generasi muda secara langsung," harapnya.
Tuding Tim Tak Serius
R SOEKAMTO - Band papan atas Indonesia, Kotak menggebrak wong Palembang, Minggu (5/5) malam lalu. Ribuan kerabat kotak (sebutan fans Kotak) yang memadati lapangan parkir mall PTC, ikut hanyut dalam lagu-lagu yang dibawakan Kotak. Lebih dari 10 lagu hits ditembangkan oleh grup band rock yang digawangi oleh Tantri (vokal), Cella (Gitar) dan Chua (Bass). Diantaranya Tinggalkan Saja, Kecuali Kamu, Pelan Pelan Saja, Rock Never Dies, Kerabat Kotak, Cuci Mata, Sweet Child, Bongkar serta tembang pamungkas Beraksi.
"Palembang, mana suaranyaaa. Ado apo disano mari bareng nyanyi yo malam ini pokoknyo wong kito galo ,"sapa Tantri, vokalis eksentrik yang dijuluki sebagai lady rocker Indonesia generasi sekarang.
Histeria dan suka cita penggemar itu nampak jelas pada Pesta Musik Jarum Super yang bekerja sama dengan Pal TV (Sumeks Group) "Memang Punyo Kito", yang juga berlangsung meriah dengan hadirnya beberapa band lokal Palembang sebagai Opening Act, Jingga Band. "Wajar jika sambutan kami seperti ini, terakhir kali grup Band Kotak manggung di Palembang pada 19 Oktober 2011 lalu. Ini obat dahaga kami," kata Raden Alam, salah satu kerabat kotak yang dijumpai di lokasi konser.
Usai Palembang, tujuan berikut dari grup band yang personil awalnya terkumpul dari salah satu ajang pencarian bakat ini, menyambangi Kayuagung, Tugumulyo dan berakhir di kota Prabumulih.
"Kami senang dan berharap grup band kegemaran kami ini akan segera kembali ke Palembang," tukas Agus, salah satu penggemar lainnya.
Sementara itu, Kotak sendiri saat ini sedang terlibat dalam sebuah garapan film Lupus dimana lagu Inspirasi Sahabat buatan Kotak akan menjadi salah satu soundtracknya.
"Kami rasa dengan penampilan Band kotak ini akan merasa sangat terhibur ini merupakan suguhan pesta musik untuk Masyarakat Palembang dan konser ini merupakan penampilan pertama di tour Djarum di pulau Sumatra , " ujar Marketing Manager PAL TV, Aan Sartana.
"Palembang, mana suaranyaaa. Ado apo disano mari bareng nyanyi yo malam ini pokoknyo wong kito galo ,"sapa Tantri, vokalis eksentrik yang dijuluki sebagai lady rocker Indonesia generasi sekarang.
Histeria dan suka cita penggemar itu nampak jelas pada Pesta Musik Jarum Super yang bekerja sama dengan Pal TV (Sumeks Group) "Memang Punyo Kito", yang juga berlangsung meriah dengan hadirnya beberapa band lokal Palembang sebagai Opening Act, Jingga Band. "Wajar jika sambutan kami seperti ini, terakhir kali grup Band Kotak manggung di Palembang pada 19 Oktober 2011 lalu. Ini obat dahaga kami," kata Raden Alam, salah satu kerabat kotak yang dijumpai di lokasi konser.
Usai Palembang, tujuan berikut dari grup band yang personil awalnya terkumpul dari salah satu ajang pencarian bakat ini, menyambangi Kayuagung, Tugumulyo dan berakhir di kota Prabumulih.
"Kami senang dan berharap grup band kegemaran kami ini akan segera kembali ke Palembang," tukas Agus, salah satu penggemar lainnya.
Sementara itu, Kotak sendiri saat ini sedang terlibat dalam sebuah garapan film Lupus dimana lagu Inspirasi Sahabat buatan Kotak akan menjadi salah satu soundtracknya.
"Kami rasa dengan penampilan Band kotak ini akan merasa sangat terhibur ini merupakan suguhan pesta musik untuk Masyarakat Palembang dan konser ini merupakan penampilan pertama di tour Djarum di pulau Sumatra , " ujar Marketing Manager PAL TV, Aan Sartana.
Senin, 29 April 2013
Artis Marissa Haque mengajak kaum perempuan di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung untuk dapat bersikap bijak dan cerdas, sehingga dapat mengisi pembangunan dan menjadi pendamping suami yang baik. Menurut istri musisi Ikang Fawzy tersebut, di Gedung Serba Guna Blambanganumpu, saat menjadi pembicara tunggal Seminar "Peran Strategis Perempuan Dalam Pembangunan" yang diselenggarakan pemerintah kabupaten setempat untuk memperingati HUT ke-14 daerah itu serta 134 tahun RA Kartini, perempuan harus bijak dan cerdas. Sehebat apa pun perempuan, tetap harus menghormati imam atau suami kita, ujar dia lagi. Istri berperan sebagai leher bagi kepala atau suami, namun fungsi itu penting, kata Marissa pula.
Pada kegiatan yang dimoderatori Ketua Darma Wanita Persatuan setempat, Farida Aryani itu, ia mengajak ratusan peserta untuk mengerti tentang kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. "Harmonisasi dalam rumah tangga itu penting. Alhamdulilah, dengan menerapkan sejumlah konsep itu, rumah tangga saya tetap baik," kata dia. Sulung tiga bersaudara itu mengaku bangga menjadi istri "pengamen". "Saya, Soraya dan Sahnaz, suaminya 'pengamen' semua, tapi kami bangga dan tetap menghormati imam kami," ujar dia lagi.
Selain bijak, demikian Marissa menambahkan, kecerdasan juga diperlukan guna menyelesaikan berbagai masalah. "Orang cerdas pasti bisa selesaikan masalah, beradaptasi dengan masalah dan mencari terobosan. Orang hidup itu meski pandai mencari terobosan," ujar dia lagi. Orang yang cerdas, katanya pula, akan menjadi orang bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi sesama, kehidupan dan lingkungan. "Contohnya orang yang bisa membuat mobil, kipas angin yang pada kenyataannya teknologi itu membantu kita," ujarnya pula. Selain itu, ia juga mengajak para peserta kegiatan itu untuk dekat dengan Sang Pencipta mengingat Tuhan dekat dengan umat yang mendekatinya. "Ada orang yang cerdas, namun ada orang yang beruntung.
Siapa yang membuat orang beruntung, jelas Allah SWT dan orang yang dekat dengan-Nya yang diberikan kemudahan-kemudahan," kata dia lagi. Marissa menambahkan, perempuan juga harus tangguh dan kuat sebagaimana rumput. Selain itu, ujar dia, kaum perempuan juga harus kreatif. "Itu lagu preman-preman yang dinyanyikan mantan pacar saya yang sekarang menjadi suami saya, royaltinya sampai dengan sekarang masih ada. Artinya kreativitas itu jelas menguntungkan," kata dia lagi
Mengenal Elliott Bakker, Warga Prancis yang Berkeliling Dunia
Kagumi Wisata Lampung, Pilih Tempuh Rute Darat
Karena hobi, apa pun bisa terjadi. Seperti yang dilakukan Elliott Bakker (25), warga Rue De Clery, Paris, Prancis. Lantaran hobi adventure-nya, pria yang hendak melanjutkan S2 ke Graduate Institute of International and Development Studies, Jenewa, Swiss, ini memilih menempuh rute darat daripada udara. Alhasil, satu per satu negara disinggahinya. Seperti apa?
HAWA dingin yang menusuk tulang membangunkan Elliott sekitar pukul 05.00 WIB. Dari dalam sebuah bak truk, ia mengintip sebuah hamparan hutan yang sangat luas di sepanjang jalan yang terlihat sepi. Jarang menikmati hal tersebut, ia pun memilih untuk tidak lagi menutup kelopak matanya.
Ya, semalam suntuk ia tidur di dalam sebuh bak truk terbuka yang melaju dari Bandung menuju Lampung. Sama sekali tidak ada rasa mengeluh dalam dirinya walau harus tidur seorang diri di bak belakang. Hal itu didapatinya bukan lantaran tak mendapat izin duduk berdampingan dengan sopir dan kernet bus tersebut. Namun, itu murni pilihan hatinya.
Sekitar satu jam berselang, sampailah ia di pusat Kota Bandarlampung. ’’Sudah sampai di Bandarlampung, Om. Mungkin saya hanya bisa mengantar sampai di sini,” ujar sopir truk kepadanya.
Akhirnya, ia turun dari tumpangannya tersebut dan lantas melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Dari situ, satu nama terpikir olehnya. Orang itu adalah Dedi Suseno, warga Jatiagung, Lampung Selatan.
’’Saya sempat menyimpan nomor ponselnya dan langsung saya hubungi untuk menjemput saya,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit belepotan saat berkunjung ke Graha Pena Lampung kemarin.
Menunggu sekitar 45 menit, Dedi datang menjemput Elliott dan langsung beristirahat sejenak di rumah Dedi. Memang dasar sang petualang, belum lama beristirahat, ia pun lantas mengajak Dedi keliling Lampung. Meski sedikit kaget, mau tidak mau Dedi mengiyakannya.
Dedi lantas menawarkannya untuk pergi berboncengan dengan sepeda motor. Namun, Elliott menolaknya. ’’Saya tetap dengan kebiasaan saya. Menumpang sebuah truk untuk menuju sebuah tempat,” ujarnya seraya mengatakan hendak berada di Lampung sekitar dua pekan terhitung sejak 15 Maret lalu.
Dengan modal tampilan bulenya, ia dengan mudah menebeng sebuah truk. ’’Kalau di luar Indonesia, 50 truk saya setop, baru satu yang mau berhenti,” katanya.
Dedi tahu pasti kalau Elliott menyenangi pantai. Karenanya, dia pun mengajak Elliott ke pantai yang ada di sekitar Kecamatan Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Rasa capek, lelah selama perjalanan kurang lebih empat jam terbayar lunas dengan melihat pantai di sana.
’’Pantainya sangat indah. Saya bahkan tak percaya bisa berada di tempat seindah itu. Tidak kalah dengan pantai yang ada di Bali,” ungkapnya.
Pesona eksotis berupa hamparan pasir putih yang luas baginya begitu menawan. Sesekali langit sekitar diselingi awan yang menggantung memberikan kesejukan dan rasa damai di hati. ’’Karena sangat menikmatinya, sore hari terasa cepat. Kami pun lantas pulang ke rumah Dedi,” tuturnya.
Keesokan harinya, ia kembali mengajak Dedi berkeliling. Dibawalah ia ke Way Kambas. Ia pun mengaku terpukau.
Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja ia bertemu mobil patroli polisi. Dia lantas ditawari untuk menebeng dan diajak mampir ke kantor polisi. Di sana, ia sempat ditanya banyak hal. ’’Saya kembali diajak berkeliling oleh polisi,” terangnya.
Selain cerita tersebut, banyak hal yang ia nikmati dari Lampung. Mulai tarian tradisional serta berbagai makanan khas Lampung. ’’Saya juga senang dengan tradisi kenduri di rumah Dedi,” kata bule yang ternyata merupakan anak pengusaha garmen di Provinsi Bali tersebut.
Menurutnya, pada Minggu (28/4), ia akan melanjutkan perjalanannya menuju Dumai untuk langsung ke Malaysia. Sebab selain Indonesia, masih ada belasan negara yang hendak dikunjunginya untuk dapat mencapai Swiss. Masing-masing Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Tiongkok, Pakistan, Iran, Turki, Yunani, Italia, hingga akhirnya finis di Swiss. Dengan jujur, ia sedikit khawatir untuk menghampiri negara lainnya. Sebab, selain bahasa Inggris dan Prancis, hanya bahasa Indonesia yang dikuasainya. ’’Semoga saja saya di sana bisa terbantu dan berharap orang-orangnya ramah seperti di Lampung ini,” harapnya.
Karena hobi, apa pun bisa terjadi. Seperti yang dilakukan Elliott Bakker (25), warga Rue De Clery, Paris, Prancis. Lantaran hobi adventure-nya, pria yang hendak melanjutkan S2 ke Graduate Institute of International and Development Studies, Jenewa, Swiss, ini memilih menempuh rute darat daripada udara. Alhasil, satu per satu negara disinggahinya. Seperti apa?
HAWA dingin yang menusuk tulang membangunkan Elliott sekitar pukul 05.00 WIB. Dari dalam sebuah bak truk, ia mengintip sebuah hamparan hutan yang sangat luas di sepanjang jalan yang terlihat sepi. Jarang menikmati hal tersebut, ia pun memilih untuk tidak lagi menutup kelopak matanya.
Ya, semalam suntuk ia tidur di dalam sebuh bak truk terbuka yang melaju dari Bandung menuju Lampung. Sama sekali tidak ada rasa mengeluh dalam dirinya walau harus tidur seorang diri di bak belakang. Hal itu didapatinya bukan lantaran tak mendapat izin duduk berdampingan dengan sopir dan kernet bus tersebut. Namun, itu murni pilihan hatinya.
Sekitar satu jam berselang, sampailah ia di pusat Kota Bandarlampung. ’’Sudah sampai di Bandarlampung, Om. Mungkin saya hanya bisa mengantar sampai di sini,” ujar sopir truk kepadanya.
Akhirnya, ia turun dari tumpangannya tersebut dan lantas melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Dari situ, satu nama terpikir olehnya. Orang itu adalah Dedi Suseno, warga Jatiagung, Lampung Selatan.
’’Saya sempat menyimpan nomor ponselnya dan langsung saya hubungi untuk menjemput saya,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit belepotan saat berkunjung ke Graha Pena Lampung kemarin.
Menunggu sekitar 45 menit, Dedi datang menjemput Elliott dan langsung beristirahat sejenak di rumah Dedi. Memang dasar sang petualang, belum lama beristirahat, ia pun lantas mengajak Dedi keliling Lampung. Meski sedikit kaget, mau tidak mau Dedi mengiyakannya.
Dedi lantas menawarkannya untuk pergi berboncengan dengan sepeda motor. Namun, Elliott menolaknya. ’’Saya tetap dengan kebiasaan saya. Menumpang sebuah truk untuk menuju sebuah tempat,” ujarnya seraya mengatakan hendak berada di Lampung sekitar dua pekan terhitung sejak 15 Maret lalu.
Dengan modal tampilan bulenya, ia dengan mudah menebeng sebuah truk. ’’Kalau di luar Indonesia, 50 truk saya setop, baru satu yang mau berhenti,” katanya.
Dedi tahu pasti kalau Elliott menyenangi pantai. Karenanya, dia pun mengajak Elliott ke pantai yang ada di sekitar Kecamatan Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Rasa capek, lelah selama perjalanan kurang lebih empat jam terbayar lunas dengan melihat pantai di sana.
’’Pantainya sangat indah. Saya bahkan tak percaya bisa berada di tempat seindah itu. Tidak kalah dengan pantai yang ada di Bali,” ungkapnya.
Pesona eksotis berupa hamparan pasir putih yang luas baginya begitu menawan. Sesekali langit sekitar diselingi awan yang menggantung memberikan kesejukan dan rasa damai di hati. ’’Karena sangat menikmatinya, sore hari terasa cepat. Kami pun lantas pulang ke rumah Dedi,” tuturnya.
Keesokan harinya, ia kembali mengajak Dedi berkeliling. Dibawalah ia ke Way Kambas. Ia pun mengaku terpukau.
Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja ia bertemu mobil patroli polisi. Dia lantas ditawari untuk menebeng dan diajak mampir ke kantor polisi. Di sana, ia sempat ditanya banyak hal. ’’Saya kembali diajak berkeliling oleh polisi,” terangnya.
Selain cerita tersebut, banyak hal yang ia nikmati dari Lampung. Mulai tarian tradisional serta berbagai makanan khas Lampung. ’’Saya juga senang dengan tradisi kenduri di rumah Dedi,” kata bule yang ternyata merupakan anak pengusaha garmen di Provinsi Bali tersebut.
Menurutnya, pada Minggu (28/4), ia akan melanjutkan perjalanannya menuju Dumai untuk langsung ke Malaysia. Sebab selain Indonesia, masih ada belasan negara yang hendak dikunjunginya untuk dapat mencapai Swiss. Masing-masing Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Tiongkok, Pakistan, Iran, Turki, Yunani, Italia, hingga akhirnya finis di Swiss. Dengan jujur, ia sedikit khawatir untuk menghampiri negara lainnya. Sebab, selain bahasa Inggris dan Prancis, hanya bahasa Indonesia yang dikuasainya. ’’Semoga saja saya di sana bisa terbantu dan berharap orang-orangnya ramah seperti di Lampung ini,” harapnya.
Minggu, 18 November 2012
Padang Panjang Adakan Festival 1 Muharram
Setelah pada hari sebelumnya mengadakan Tabligh Akbar di mesjid Jihad, masyarakat Padang Panjang melanjutkan perayaaan tahun baru Hijriyah di GOR Khatib Sulaeman, Bancah Laweh, hari ini (15/11).
Festival 1 Muharram ini dihadiri oleh seluruh majelis taklim Padang Panjang, unsur Muspida, Walikota Padang Panjang serta dimeriahkan oleh tausiyah dari Ustad Reza dan penampilan artis religius Opik.
"Acara ini akan digelar hingga malam dengan berbagai acara. Lomba MTQ, DAI cilik, gambus, festival musik dan tari-tarian Minang. Pada hari sebelumnya juga telah dilaksanakan tabligh akbar dengan enam muadzin dan shalat berjamaah di mesjid Jihad, acara puncak hingga nanti malam," tutur Trisna Mulyadi, Dinas Porbudpar bidang kebudayaan sekaligus panitia acara, Kamis (15/11).
Walikota Padang Panjang, Syuir Syam, dalam pidatonya menyampaikan gembira dengan antusias masyarakat merayakan Festival 1 Muharram ini.
"Momen tahun baru 1434 Hijriyah mengingatkan kita untuk menjaga dan menjunjung tinggi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah kita sebagai orang Minang" ujar Syuir Syam.
Oleh karena itu, dengan adanya acara festival ini diharapkan dapat semakin mempererat tali silaturahmi sesama muslim dan juga dapat dijadikan sebagai sarana instropeksi diri dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1434 H.
Senin, 11 April 2011
Bunga Raflesia Arnoldi Mekar di Hutan Lindung Bukit Daum
BENGKULU, - Satu bunga Raflesia Arnoldi kembali mekar di Hutan Lindung Bukit Daun register 5 Desa Tebat Monok, Kecamatan Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Senin.
Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok Holidin mengatakan, ukuran bunga mekar tersebut merupakan yang terbesar dibanding tiga bunga yang ditemukan mekar sebelumnya di lokasi tersebut. "Diameternya mencapai satu meter," katanya.
Sebelumnya, kelompok ini juga menemukan tiga bunga raflesia mekar di Hutan Lindung Bukit Daun namun diameter yang mekar saat ini merupakan yang terbesar.
Holidin mengatakan, seperti biasanya, kelompok tersebut memberi pagar pengaman terhadap bunga tersebut untuk menghindari gangguan dari manusia atau satwa liar.
Anggota kelompok itu juga sudah membuat papan bertuliskan "bunga raflesia mekar" di pinggir jalan raya yang menghubungkan Kota Bengkulu dan Kabupaten Kepahiang, lokasi bunga mekar tersebut.
"Kami juga sudah membuat pondok penjagaan di pinggir jalan dan sudah ada jalan setapak menuju lokasi bunga, sekitar 200 meter dari badan jalan raya," tambahnya.
Selain satu bunga mekar tersebut, kelompok yang dibentuk sejak 10 tahun lalu itu juga menemukan 22 bonggol atau calon bunga raflesia dalam radius satu kilometer di dalam Hutan Lindung Bukit Daun tersebut.
Ia memperkirakan, hingga akhir 2011 akan ada bunga raflesia mekar di HL tersebut sehingga masyarakat bisa menikmati keunikannya.
"Tahun ini memang yang terbanyak mekar, masih ada 22 bonggol yang kami temukan, mudah-mudahan bisa mekar sempurna," tambahnya.
Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok Holidin mengatakan, ukuran bunga mekar tersebut merupakan yang terbesar dibanding tiga bunga yang ditemukan mekar sebelumnya di lokasi tersebut. "Diameternya mencapai satu meter," katanya.
Sebelumnya, kelompok ini juga menemukan tiga bunga raflesia mekar di Hutan Lindung Bukit Daun namun diameter yang mekar saat ini merupakan yang terbesar.
Holidin mengatakan, seperti biasanya, kelompok tersebut memberi pagar pengaman terhadap bunga tersebut untuk menghindari gangguan dari manusia atau satwa liar.
Anggota kelompok itu juga sudah membuat papan bertuliskan "bunga raflesia mekar" di pinggir jalan raya yang menghubungkan Kota Bengkulu dan Kabupaten Kepahiang, lokasi bunga mekar tersebut.
"Kami juga sudah membuat pondok penjagaan di pinggir jalan dan sudah ada jalan setapak menuju lokasi bunga, sekitar 200 meter dari badan jalan raya," tambahnya.
Selain satu bunga mekar tersebut, kelompok yang dibentuk sejak 10 tahun lalu itu juga menemukan 22 bonggol atau calon bunga raflesia dalam radius satu kilometer di dalam Hutan Lindung Bukit Daun tersebut.
Ia memperkirakan, hingga akhir 2011 akan ada bunga raflesia mekar di HL tersebut sehingga masyarakat bisa menikmati keunikannya.
"Tahun ini memang yang terbanyak mekar, masih ada 22 bonggol yang kami temukan, mudah-mudahan bisa mekar sempurna," tambahnya.
Perjuangan Candi Muarojambi untuk Dunia
JAMBI, — Masyarakat peduli Candi Muarojambi (The Society of Muarojambi Temple/The SOMT) akan terus memperjuangkan agar situs Candi Muarojambi di Kabupaten Muarojambi dapat dikenal sekaligus menjadi warisan dunia.
"Sampai sekarang, The SOMT terus memperjuangkan Candi Muarojambi agar bisa dikenal di mancanegara melalui berbagai kegiatan dan publikasi serta mengupayakan sampai ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO)," kata salah seorang pengurus The SOMT, M Romy, di Jambi, Rabu.
Masyarakat peduli Candi Muarojambi sudah melakukan kegiatan pengenalan situs candi tersebut sejak satu tahun lalu melalui program yang sudah disusun dan terencana.
The SOMT juga telah menjalani kerja sama dengan pemerintah daerah dan provinsi melalui dinas kebudayaan dan pariwisata setempat untuk bersama-sama memperjuangkan Candi Muarojambi bisa lebih dikenal dunia dan diakui sebagai salah satu warisan dunia.
Berbagai kegiatan yang telah dilakukan di antaranya menjalin kerja sama dengan Pemerintah India, khususnya wilayah Nelanda yang memiliki kesamaan, sebab di sana ada prasasti tentang ajaran agama Buddha yang juga terdapat di situs Candi Muarojambi tersebut.
Jalinan kerja sama tersebut sudah mulai berjalan. Kedua belah pihak sudah melakukan saling kunjungan ke negara masing-masing, termasuk ke Nelanda, India, beberapa waktu lalu.
Di kawasan situs percandian Muarojambi terdapat Candi Astano, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong, Candi Kedaton, dan Candi Koto Mahligai. Dilihat dari arsitekturnya, bangunan tersebut merupakan peninggalan kebudayaan Buddha pada abad IV dan V Masehi.
Di kompleks percandian Muarojambi juga terdapat Candi Kembar Batu. Letaknya sekitar 250 meter di tenggara Candi Tinggi yang dibatasi oleh pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran yang tidak sama setiap sisinya, dan di sana juga pernah ditemukan Gong Cina oleh para arkeolog.
Sampai awal abad XXI, di situs percandian Muarojambi telah teridentifikasi lebih kurang terdapat 110 bangunan candi yang terdiri atas 39 kelompok candi.
Bangunan candi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Melayu hingga Kerajaan Sriwijaya, yang berlatar belakang kebudayaan Melayu Budhis dan diperkirakan candi-candi tersebut mulai dibangun sejak abad IV M. Salah satu di antara kelompok candi tersebut adalah Candi Gumpung.
Tukang Pijat Laris Manis
PRABUMULIH, Sumatera Selatan - Berprofesi sebagai tukang pijat atau ahli pengobatan urut tradisional di Prabumulih masih menjanjikan.
Keahlian yang tak memerlukan peralatan khusus untuk bekerja, cukup dengan minyak kelapa (minyak sayur, red) dan jemari tangan yang kuat dan terampil, pelakonnya sudah dapat menunjang kebutuhan hidup.
Bayangkan, dalam sehari saja para tukang pijat mampu memperoleh pendapatan rata-rata di atas Rp 700 ribu. Jumlah itu sangat jauh di atas penghasilan seorang kepala buruh bangunan (mandor, red) atau seorang PNS Golongan III b sekalipun.
Salah satu diantaranya Mbah Maniah. Wanita berusia 60 tahun, warga Jalan Tampomas, Kelurahan Prabujaya, Kecamatan Prabumulih Timur ini mengaku dalam sehari semalam bisa melayani minimal sepuluh pasien.
Rata-rata setiap pasien memberikan uang jasa kepadanya mulai Rp 50 ribu-Rp 100 ribu, tergantung keikhlasan pasien. Penyebabnya karena Mbah Maniah dalam setiap pelayanannya tidak pernah mematok tarif khusus kepada pasiennya.
“Berapa pun mereka kasih saya terima, penting mereka benar-benar sembuh dan sehat. Alhamdulillah dalam sehari mampu menghasilkan Rp 700 ribu,” ujarnya ketika dijumpai di rumah salah satu pelanggannya, Susi (24) baru-baru ini.
Biasanya setiap pasien yang sudah merasakan pijatan jari terampil milik Mbah Maniah ini akan kembali meminta jasanya.
Tidak heran sejak ia mulai menjalani profesinya dari tahun 90-an sampai sekarang, jumlah pelanggan Mbah Maniah terus bertambah bahkan sudah mencapai ratusan pelanggan. Para pelanggannya ini tersebar tidak hanya di Kota Prabumulih, tetapi juga ada di luar kota.
“Mungkin pasien merasa serasi dengan jemari tangan saya ketika mengurut. Setiap kali habis di urut, besok-besoknya pasti nelpon minta kembali di urut,” katanya dengan nada tetap merendah.
Menurut Mbah Maniah, keahliannya memijat tubuh dan urat manusia itu tidak diperolehnya melalui belajar ataupun kursus. Namun diakuinya berasal dari bakat alami yang diturunkan nenek moyangnya.
Dirinya juga mengaku tidak memiliki ritual khusus setiap kali mengurut (memijat) pasiennya. Cukup memanjatkan doa, meminta kepada Allah SWT supaya pasiennya sembuh dan sehat bugar
Sabtu, 05 Maret 2011
Megalit Pagaralam Kurang Perawatan
Pagaralam - Pagaralam merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang banyak memiliki kekayaan budaya dan peninggalan pra sejarah, megalit. Namun dari sekian batu megalit hanya ada beberapa saja yang dirawat selebihnya hanya dibiarkan saja. Akibat tidak dirawat atau dijaga banyak batu megalit di Pagaralam yang rusak parah.
Kurangnya perhatian pemerintah akan peningalan pra sejarah ini mendorong masyarakat juga tidak peduli dengan keberadaan megalit tersebut. Megalit di Pagaralam ini masih banyak yang berada dikawasan perkebunan warga yang sampai saat ini lahannya belum dibebaskan pemerintah. Dengan demikian situs-situs tersebut hanya dibiarkan begiru saja tanpa ada upaya pemagaran oleh pihak pemerintah Pagaralam.
"Megalith Arca mengendong anak ini dulunya bagus, namun karena dirusak oleh warga akhirnya batu ini nyaris tidak terlihat lagi bentuknya. Padahal dulunya batu ini sangat bagus karena bentuknya sagat terlihat jelas seeorang ibu yang sedang mengendong anaknya," ujar Apan, warga Dusun Jambat Akar.
Dari pengamatan Sripoku.com, kepala arca ibu mengendong anak berada tepat ditengah-tengah sawah warga, yang sangat memprihatinkan kepala arca tersebut sudah terpisah dari badannya baik itu kepala ibunya maupun kepala anak yang digendong. Diduga kepala arca tersebut dilepas dengan sengaja oleh tangan-tangan jahil.
Dari pantauan, ada sejumlah megalit yang tidak terawat dan rusak dikawasan tersebut, selain Arca mengendong anak ada juga rumah batu yang sudah hancur karena batunya sudah pecah. Ditambah lagi kubur batu yang berada di Dusun Tegur Wangi yang sampai sekarang belum dipagar yang membuat kubur batu itu menjadi tempat bermain warga setempat.
Sementara itu, Budi (34) warga Dusun Tegur Wangi mengatakan, bahwa banyak megalit yang terdapat di Pagaralam ini yang sudah rusak dan tidak terawat. Seperti contoh Dolmen yang ada di Dusun Tanjung Aro, Arca manusia di Cawang Baru, Arca Ibu mengendong anak di Jambat Akar, Rumah Batu di Jambat Akar dan manusia dililit Ular di Dempo Selatan yang sampai saat ini belum dipagar.
"Memang tidak ada petugas khusus yang ditugaskan untuk menjaga megalit tersebut dari pihak pemerintah Kota Pagaralam. Jadi dengan kondisi itu megalit tersebut sama sekali tidak ada yang menjaganya atau yang mengawasinya," katanya.
Kurangnya perhatian pemerintah akan peningalan pra sejarah ini mendorong masyarakat juga tidak peduli dengan keberadaan megalit tersebut. Megalit di Pagaralam ini masih banyak yang berada dikawasan perkebunan warga yang sampai saat ini lahannya belum dibebaskan pemerintah. Dengan demikian situs-situs tersebut hanya dibiarkan begiru saja tanpa ada upaya pemagaran oleh pihak pemerintah Pagaralam.
"Megalith Arca mengendong anak ini dulunya bagus, namun karena dirusak oleh warga akhirnya batu ini nyaris tidak terlihat lagi bentuknya. Padahal dulunya batu ini sangat bagus karena bentuknya sagat terlihat jelas seeorang ibu yang sedang mengendong anaknya," ujar Apan, warga Dusun Jambat Akar.
Dari pengamatan Sripoku.com, kepala arca ibu mengendong anak berada tepat ditengah-tengah sawah warga, yang sangat memprihatinkan kepala arca tersebut sudah terpisah dari badannya baik itu kepala ibunya maupun kepala anak yang digendong. Diduga kepala arca tersebut dilepas dengan sengaja oleh tangan-tangan jahil.
Dari pantauan, ada sejumlah megalit yang tidak terawat dan rusak dikawasan tersebut, selain Arca mengendong anak ada juga rumah batu yang sudah hancur karena batunya sudah pecah. Ditambah lagi kubur batu yang berada di Dusun Tegur Wangi yang sampai sekarang belum dipagar yang membuat kubur batu itu menjadi tempat bermain warga setempat.
Sementara itu, Budi (34) warga Dusun Tegur Wangi mengatakan, bahwa banyak megalit yang terdapat di Pagaralam ini yang sudah rusak dan tidak terawat. Seperti contoh Dolmen yang ada di Dusun Tanjung Aro, Arca manusia di Cawang Baru, Arca Ibu mengendong anak di Jambat Akar, Rumah Batu di Jambat Akar dan manusia dililit Ular di Dempo Selatan yang sampai saat ini belum dipagar.
"Memang tidak ada petugas khusus yang ditugaskan untuk menjaga megalit tersebut dari pihak pemerintah Kota Pagaralam. Jadi dengan kondisi itu megalit tersebut sama sekali tidak ada yang menjaganya atau yang mengawasinya," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)