Senin, 29 April 2013

Mengenal Elliott Bakker, Warga Prancis yang Berkeliling Dunia

Kagumi Wisata Lampung, Pilih Tempuh Rute Darat
Karena hobi, apa pun bisa terjadi. Seperti yang dilakukan Elliott Bakker (25), warga Rue De Clery, Paris, Prancis. Lantaran hobi adventure-nya, pria yang hendak melanjutkan S2 ke Graduate Institute of International and Development Studies, Jenewa, Swiss, ini memilih menempuh rute darat daripada udara. Alhasil, satu per satu negara disinggahinya. Seperti apa?

HAWA dingin yang menusuk tulang membangunkan Elliott sekitar pukul 05.00 WIB. Dari dalam sebuah bak truk, ia mengintip sebuah hamparan hutan yang sangat luas di sepanjang jalan yang terlihat sepi. Jarang menikmati hal tersebut, ia pun memilih untuk tidak lagi menutup kelopak matanya.

Ya, semalam suntuk ia tidur di dalam sebuh bak truk terbuka yang melaju dari Bandung menuju Lampung. Sama sekali tidak ada rasa mengeluh dalam dirinya walau harus tidur seorang diri di bak belakang. Hal itu didapatinya bukan lantaran tak mendapat izin duduk berdampingan dengan sopir dan kernet bus tersebut. Namun, itu murni pilihan hatinya.

Sekitar satu jam berselang, sampailah ia di pusat Kota Bandarlampung. ’’Sudah sampai di Bandarlampung, Om. Mungkin saya hanya bisa mengantar sampai di sini,” ujar sopir truk kepadanya.

Akhirnya, ia turun dari tumpangannya tersebut dan lantas melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Dari situ, satu nama terpikir olehnya. Orang itu adalah Dedi Suseno, warga Jatiagung, Lampung Selatan.

’’Saya sempat menyimpan nomor ponselnya dan langsung saya hubungi untuk menjemput saya,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit belepotan saat berkunjung ke Graha Pena Lampung kemarin.

Menunggu sekitar 45 menit, Dedi datang menjemput Elliott dan langsung beristirahat sejenak di rumah Dedi. Memang dasar sang petualang, belum lama beristirahat, ia pun lantas mengajak Dedi keliling Lampung. Meski sedikit kaget, mau tidak mau Dedi mengiyakannya.

Dedi lantas menawarkannya untuk pergi berboncengan dengan sepeda motor. Namun, Elliott menolaknya. ’’Saya tetap dengan kebiasaan saya. Menumpang sebuah truk untuk menuju sebuah tempat,” ujarnya seraya mengatakan hendak berada di Lampung sekitar dua pekan terhitung sejak 15 Maret lalu.

Dengan modal tampilan bulenya, ia dengan mudah menebeng sebuah truk. ’’Kalau di luar Indonesia, 50 truk saya setop, baru satu yang mau berhenti,” katanya.

Dedi tahu pasti kalau Elliott menyenangi pantai. Karenanya, dia pun mengajak Elliott ke pantai yang ada di sekitar Kecamatan Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Rasa capek, lelah selama perjalanan kurang lebih empat jam terbayar lunas dengan melihat pantai di sana.

’’Pantainya sangat indah. Saya bahkan tak percaya bisa berada di tempat seindah itu. Tidak kalah dengan pantai yang ada di Bali,” ungkapnya.

Pesona eksotis berupa hamparan pasir putih yang luas baginya begitu menawan. Sesekali langit sekitar diselingi awan yang menggantung memberikan kesejukan dan rasa damai di hati. ’’Karena sangat menikmatinya, sore hari terasa cepat. Kami pun lantas pulang ke rumah Dedi,” tuturnya.

Keesokan harinya, ia kembali mengajak Dedi berkeliling. Dibawalah ia ke Way Kambas. Ia pun mengaku terpukau.

Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja ia bertemu mobil patroli polisi. Dia lantas ditawari untuk menebeng dan diajak mampir ke kantor polisi. Di sana, ia sempat ditanya banyak hal. ’’Saya kembali diajak berkeliling oleh polisi,” terangnya.

Selain cerita tersebut, banyak hal yang ia nikmati dari Lampung. Mulai tarian tradisional serta berbagai makanan khas Lampung. ’’Saya juga senang dengan tradisi kenduri di rumah Dedi,” kata bule yang ternyata merupakan anak pengusaha garmen di Provinsi Bali tersebut.

Menurutnya, pada Minggu (28/4), ia akan melanjutkan perjalanannya menuju Dumai untuk langsung ke Malaysia. Sebab selain Indonesia, masih ada belasan negara yang hendak dikunjunginya untuk dapat mencapai Swiss. Masing-masing Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Tiongkok, Pakistan, Iran, Turki, Yunani, Italia, hingga akhirnya finis di Swiss. Dengan jujur, ia sedikit khawatir untuk menghampiri negara lainnya. Sebab, selain bahasa Inggris dan Prancis, hanya bahasa Indonesia yang dikuasainya. ’’Semoga saja saya di sana bisa terbantu dan berharap orang-orangnya ramah seperti di Lampung ini,” harapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar