Minggu, 16 Juni 2013

Atasi Krisis Pangan, Lampung Pilih Impor

BANDARLAMPUNG – Pemprov Lampung mulai melakukan pergerakan terkait perkiraan paceklik beberapa bahan pangan pada Ramadan nanti. Langkah strategis yang disiapkan, salah satunya ”impor” bahan pangan dari daerah surplus. Sebagai contoh untuk mengatasi kekurangan persediaan bawang merah yang mencapai 5.332 ton. Melalui Diskoperindag, pemprov berupaya melobi Brebes, Jawa Tengah.


Kabupaten yang bersebelahan dengan Tegal itu, selama ini dikenal sebagai pemasok bawang merah. Dengan lobi awal, pemprov berharap Brebes dapat memprioritaskan provinsi ini.

’’Untuk bawang merah, kita memang sangat mengandalkan Brebes. Sebab, Lampung bukan daerah penghasil komoditas itu. Kalau toh ada, cenderung untuk konsumsi daerah setempat atau sekadar konsumsi rumah tangga,” ujar Kabag Perdagangan Dalam Negeri Diskoperindag Lampung Ofrial kemarin.

Dari Provinsi Jawa Barat, pemprov juga berharap mendapat pasokan cabai merah. Di mana, Lampung kekurangan hingga 5.268 ton. ”Semoga saja daerah impor ini dalam kondisi surplus,” ungkap Ofrial.

Antisipasi Ramadan dan Idul Fitri juga dilakukan Dinas Bina Marga Lampung. Kepala Dinas Bina Marga Lampung Arif Hidayat menerangkan, menjelang hari raya, perjalanan darat dipastikan meningkat tajam.

”Sehingga perlu diupayakan tersedianya jalur jalan dan manajemen lalu lintas yang baik guna mengantisipasi lonjakan lalu lintas,” katanya.

Dia membeberkan, jalur utama di Provinsi Lampung fokus pada tiga lintas. Yaitu lintas barat, tengah, dan timur. ”Pada H-7 Lebaran, kondisi jalan diharapkan dalam keadaan baik atau setidaknya sedang,” ujarnya.

Untuk Lampung sekarang ini setidaknya terdapat 332,21 km atau 19,51 persen jalan provinsi dalam kondisi rusak berat. Sementara 19,77 persen atau 336,6 km rusak ringan.

Kemudian sekitar 565,17 km (33,19%) berada dalam kondisi baik. Sisanya 468,83 km (27,53%) disebut berkondisi sedang. ’’Untuk ruas jalan dengan status jalan nasional yang mencapai panjang 1.159,573 km, sekitar 67,879 km dalam kondisi rusak berat,” katanya.

Menurutnya, ruas jalan menjelang Lebaran yang menjadi perhatian dalam perbaikan adalah Jalan Soekarno–Hatta (Bypass) yang mencapai 18,1 km. Sepanjang 10 km dari persimpangan jalan lintas Natar, progres perbaikan pada Mei telah mencapai 67 persen dari target 66 persen.

Pada akhir Juli, pelebaran dan perkerasan secara keseluruhan harapannya telah diselesaikan. Sehingga untuk arus mudik dan arus balik, secara fungsional dapat digunakan dengan kondisi nyaman.

’’Kecuali beberapa titik yang masih menghadapi kendala. Contohnya, masih adanya bangunan yang didirikan warga pada lahan negara. Di mana, seharusnya lahan itu untuk pembangunan bahu dan siring jalan Bypass seperti di sekitar Waylunik,” ujarnya.

Karena itu, Dinas Bina Marga Lampung telah mengusulkan pemberian tali asih kepada warga yang tanah atau bangunannya kena gusur lantaran pembangunan Bypass. Besarannya mencapai Rp2 miliar yang rencananya dianggarkan dalam APBD Perubahan 2013. ’’Kalau pemerintah pusat tidak ada anggarannya. Namun, berapa kepala keluarga yang terkena penggusuran, kita belum mengetahui secara pasti,” urainya.

Menurutnya, sebelum Lebaran, Jl. Soekarno–Hatta dipastikan sudah selesai diaspal. ”Untuk penyelesaian akhirnya ada perpanjangan masa kontrak pengerjaan jalan itu hingga Desember 2013 dari tadinya Oktober 2013,” ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar