Peningkatan harga beras yang terjadi di Sumsel sejak Idul Fitri sampai sekarang disebabkan beras produksi Sumsel dijual ke luar daerah. Akibatnya, stok beras di Sumsel berkurang sehingga harga beras meningkat meskipun panen masih terjadi.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, M Umar Harun, Rabu (1/12) mengungkapkan, produksi beras Sumsel dalam satu tahun mencapai surplus 2 juta ton. Namun, surplus beras sebesar itu banyak dijual ke provinsi lain yang membutuhkan beras, seperti Bengkulu, Jambi, Lampung, bahkan sampai ke Jakarta.
”Karena terjadi peningkatan permintaan beras dari luar Sumsel, stok beras di Sumsel berkurang sehingga harga beras di Sumsel naik. Kenaikan harga beras itu yang memicu inflasi di Palembang selama November,” kata Umar.
Menurut Umar, produksi beras Sumsel bisa surplus karena di Sumsel memiliki sawah irigasi, sawah lebak, sawah pasang surut, dan sawah tadah hujan. ”Sayangnya tidak ada data berapa jumlah produksi beras Sumsel yang dijual ke luar daerah,” katanya.
Dia meminta dilakukan penghitungan produksi beras Sumsel lebih akurat. Selama ini di Sumsel setiap 1.000 kilogram gabah kering panen (GKP) dihitung setara 650 kilogram beras seperti penghitungan nasional. Jumlah itu terlalu besar sehingga penghitungan panen padi di Sumsel lebih besar dari sesungguhnya.
”Seharusnya 1.000 kilogram GKP setara dengan 570 kilogram beras saja. Hasil panen padi tidak bisa dipukul rata karena kondisi setiap daerah berbeda-beda,” ujar Umar.
Kepala Badan Pusat Statistik Sumsel Haslani Haris mengatakan, pada November 2010, Kota Palembang mengalami inflasi sebesar 1,16 persen. Inflasi disebabkan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 123,08 pada bulan Oktober menjadi 124,51 pada November.
Menurut Haslani, kenaikan IHK yang tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 3,53 persen, diikuti kelompok sandang (1,51 persen), kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar (0,27 persen), kelompok makanan jadi (0,16 persen), serta kelompok transportasi dan komunikasi (0,02 persen).
Haslani mengungkapkan, beras mengalami perubahan harga sebesar 1,45 persen. Perubahan harga beras tersebut menyumbangkan inflasi Kota Palembang sebesar 0,08 persen.
Haslani menjelaskan, perubahan harga beras memang menyebabkan inflasi, tetapi sebenarnya perubahan harga beras tidak setinggi komoditas lainnya. Cabai merah mengalami perubahan harga sebesar 63,9 persen dan sumbangan terhadap inflasi mencapai 0,39 persen. Perubahan harga bawang merah mencapai 27,1 persen dan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,16 persen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar