Minggu, 16 Juni 2013

Perupa Lampung Lolos ke Pameran Seni Rupa Nusantara 2013

Perupa Lampung Ari Susiwa Manangisi melalui karyanya bertajuk Mesuji ’’Amuk” Sidomulyo berhasil lolos dari seleksi Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 yang digelar Galeri Nasional Indonesia tahun ini. Ari merupakan satu-satunya perupa Lampung yang bakal menaja karya lukisnya dalam pameran yang menurut rencana dibuka Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Wiendu Nuryanti itu.

Pameran dua tahunan ini akan digelar di Galeri Nasional, Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta, dari 7–24 Mei 2013 yang terbuka bagi umum dan gratis. Pameran yang dikurasi duet Kuss Indarto dan Asikin ini berhasil meloloskan 94 karya perupa atau kelompok dari 402 nama atau kelompok yang mengajukan proposal.

Perupa Lampung yang pernah mendapat penghargaan The Gate: Pre Discourse dari Hue Bei Art College, Wu Han, Tiongkok, pada 2007 ini mengusung peristiwa kerusuhan di Mesuji dan Sidomulyo di atas kanvasnya dalam bahasa rupa. Menurut Ari Susiwa Manangisi, Mesuji ’’Amuk” Sidomulyo berukuran 320 x 210 cm terbagi dalam 12 panel lukisan ini menggambarkan tarik-menarik kepentingan.

Perupa kelahiran Lubuk Linggau, 10 Oktober 1952, ini memaparkan konsepnya. Yakni di ujung carut-marut pendataan lahan penduduk yang tumpang tindih, meletuslah segala kemelut dendam. Membakar, merusak, melampiaskan semua kekotoran jiwa bertajuk: hukum rimba.

’’Keluarga saya pun menjadi salah satu korban di Mesuji. Tanah seluas 15 hektare yang dibeli patungan hilang karena bukti dan kekuatan hukumnya dikalahkan,” ujar Ari sembari mengatakan, itulah salah satu alasan mengapa dia melahirkan karya Mesuji ’’Amuk” Sidomulyo.

Peristiwa Mesuji dan Sidomulyo, lanjut Ari, merupakan bencana kemanusiaan berskala provinsi. Tetapi mungkin saja mengguncang nusantara bila tidak cepat dituntaskan secara nyata, sungguh-sungguh, dan bukan penyelesaian sesaat demi menyenangkan penguasa atau sandiwara yang memunculkan kambing hitam.

’’Amuk Mesuji, Amuk Sidomulyo mengancam Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi apa mungkin di saat masing-masing pihak adalah batu-batu yang saling bertumbukan dapat menuntaskan semua itu?” ujar perupa yang pernah menaja karyanya di Beijing ini.

Sementara itu, Kepala Galeri Nasional Tubagus ’’Andre” Sukmana mengatakan, 94 perupa atau kelompok perupa tersebut akan disandingkan dengan nama-nama atau kelompok perupa yang masuk sebagai peserta pameran lewat jalur undangan khusus.

’’Perupa atau kelompok yang mendapat undangan khusus dalam pameran ini berjumlah sekitar 20 nama yang berasal dari beberapa provinsi,” ujar Andre.

Dia menambahkan, proposal karya yang lolos seleksi relatif beragam, meski karya lukisan (2 dimensi) tetap mendominasi karya yang dikirimkan oleh para seniman. Namun di antara banyaknya lukisan, karya-karya yang kelak bersaing di ruang pajang gedung A, B, dan C Galeri Nasional Indonesia adalah fotografi, keramik, instalasi, video art, patung, dan lainnya.

’’Dari segi ukuran pun relatif cukup memberi kejutan. Sayangnya, kali ini tak ada seniman yang berpikir untuk menampilkan karya outdoor tiga dimensi dengan ukuran yang ’provokatif’ bagi mata penonton. Semua karya hanya akan terpajang di dalam gedung,” papar Andre. (

Tidak ada komentar:

Posting Komentar