Aidil, Manajer Kampanye dan Advokasi Wahana Bumi Hijau Aidil Fitri, menginformasikan bahwa mereka akan memantau pembalakan liar di kawasan hutan Merang, Kecamatan Bayunglincir, Kabupaten Musi Banyuasin, melalui udara. Pemantauan dilakukan bersama Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan mengajak wartawan.
”Informasi ini masih rahasia. Nanti kalau jadwalnya sudah pasti, saya akan hubungi lagi,” kata Aidil menutup pembicaraan melalui telepon.
Pemantauan baru dilaksanakan hari Jumat (10/12) pukul 09.00 dengan menggunakan helikopter milik Direktorat Polisi Udara Badan Pemelihara Keamanan Mabes Polri.
Helikopter tersebut membawa lima penumpang, yaitu Alex Noerdin, Aidil Fitri, Country Representative Greenpeace Indonesia Nur Hidayati, Kompas, fotografer Getty Images, serta didukung tiga awak helikopter.
Penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, menuju ke kawasan hutan Merang memerlukan waktu satu jam.
Dari dalam helikopter tampak jelas bagaimana hutan Sumsel telah ”dikapling-kapling”. Ada kawasan hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit dan ada yang menjadi hutan tanaman industri (HTI).
Tampak jelas proses pembersihan lahan (land clearing) yang dilakukan perusahaan HTI. Ribuan meter kubik kayu hasil pembersihan lahan tampak ditumpukkan di satu lokasi.
Kawasan hutan yang telah dibersihkan kemudian ditanami dengan pohon akasia yang merupakan bahan baku bubur kertas (pulp) untuk industri kertas.
Sebagian kawasan hutan itu ada juga yang ditelantarkan karena bekas terbakar. Lahan bekas terbakar tampak dari kondisinya yang gundul dan hanya ditumbuhi sedikit pepohonan.
Dari udara mudah sekali terlihat adanya praktik pembalakan liar. Penumpang helikopter dan kru dapat melihat dengan jelas pondok-pondok yang dihuni para pembalak liar.
Pondok itu biasanya beratap terpal sehingga terlihat jelas dari udara. Di sekitar pondok terdapat tumpukan kayu hasil pembalakan liar, juga rel dari kayu yang fungsinya mempermudah pemindahan kayu hasil pembalakan liar.
Alex Noerdin melihat lokasi pondok pembalak itu menggunakan teropong. Dengan bahasa isyarat karena di dalam helikopter sangat bising, Alex mengingatkan Kompas dan fotografer Getty Images untuk memotret lokasi para pembalak liar.
Pemantauan dari udara itu juga menemukan pabrik pengolahan kayu yang diduga menjadi penadah kayu hasil pembalakan liar.
Helikopter melakukan beberapa manuver mengelilingi lokasi pembalakan liar agar dapat dipotret dengan jelas.
Alat global positioning system (GPS) yang dibawa Aidil mencatat koordinat lokasi pembalakan liar. Tercatat 12 koordinat lokasi pembalakan liar, tetapi Aidil yakin jumlah pembalak liar jauh lebih banyak dari itu.
Pemandangan menyedihkan ketika kami melihat kayu hasil pembalakan liar diikat jadi rakit, kemudian dihanyutkan di sungai. Panjang rakit itu mencapai ratusan meter. Tampak jelas betapa pembalak liar amat leluasa menjarah hutan gambut Sumsel.
Setelah helikopter mendarat di halaman Griya Agung pukul 11.00, Alex Noerdin langsung mengadakan jumpa pers. Ia prihatin dan marah kepada para pembalak liar yang menimbulkan kerusakan hutan di Sumsel.
Menurut Alex, dalam satu hari pemantauan saja ditemukan 12 lokasi pembalakan liar. Dalam waktu singkat, hutan gambut Sumsel itu bisa musnah oleh ulah pembalak liar.
Alex mengutarakan, pembalakan liar di Sumsel dibiayai para cukong. ”Para cukong itulah yang mendapat uang banyak dari hasil pembalakan liar. Sementara para pembalak liar di hutan sekadar mencari sesuap nasi.”
Untuk mengungkap siapa cukong di belakang pembalakan liar di Sumsel tidak sulit, hanya butuh kemauan pemerintah sebab banyak bukti, seperti foto dan koordinat yang menunjukkan bahwa pembalakan liar benar-benar terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar