Fahrudin merupakan salah satu contoh pengusaha asal Kota Palembang yang berhasil mengembangkan sayap bisnis mulai dari nol hingga ke level produsen skala besar, pemodal, sekaligus pemberi kerja bagi ratusan orang. Hal itu terbukti dari keteguhan hati yang diimbangi dengan kerja keras saat menerjuni profesi sebagai pedagang mi ayam keliling hingga akhirnya Fahrudin meraih kesuksesan dengan membangun tiga pabrik mi di Palembang, Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir.
Meski sudah menjadi pengusaha sukses, kesan ramah, santun, dan rendah hati masih terlihat dari sosok Fahrudin saat ditemui di kediamannya hari Sabtu (11/12). Menurut pria kelahiran Palembang, 14 April 1967, ini, sifat sombong dan lupa diri merupakan hal yang paling dihindarinya karena hal itu bisa meruntuhkan kesuksesan yang diraih dengan susah payah.
”Saat ini pun saya selalu teringat masa-masa ketika harus bersusah payah mencari uang. Setelah gagal bekerja di perusahaan, saya putuskan untuk mencari uang dengan berusaha. Pilihan menjadi pedagang mi ayam ini waktu itu melintas tiba-tiba di otak saya. Lalu, saya merasa punya tekad dan keyakinan kuat bahwa saya bisa berhasil di usaha ini,” kata pemilik unit usaha bersifat kemitraan, Mie Ayam Berkah, sekaligus mitra usaha Bogasari itu.
Sama halnya dengan pengusaha-pengusaha lain, Fahrudin juga menemui banyak kendala selama masa-masa awal usahanya. Waktu itu, Fahrudin harus bersaing dengan pengusaha makanan lokal Palembang, seperti pempek, adaan, model, pengusaha pindang patin keliling, hingga pedagang sate.
Meski demikian, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara ini tidak patah semangat dan terus menekuni profesinya sebagai pedagang keliling. Hingga tahun kelima, perubahan mulai dirasakan Fahrudin. Itu terlihat dari pendapatan yang meningkat dan punya pelanggan tetap yang jumlahnya ratusan orang,
Salah satu prinsip usaha yang diyakini Fahrudin adalah keuntungan yang diperoleh seusai berjualan jangan dihabiskan semua untuk keperluan sehari-hari, tetapi harus ditabung. Dari hasil tabungan inilah Fahrudin akhirnya bisa mengakhiri kegiatan berjualan keliling dengan membeli sebuah ruko di Kertapati. Lama-kelamaan usahanya tambah besar, hingga lima tahun lalu dia berhasil membangun tiga pabrik sekaligus dengan pendapatan lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar