Kamis, 08 November 2012
Kopi Sempian Biaya Tinggi, Belum Ada Pasar
Banyaknya kebun kopi musang yang berada di daerah Sempian sebelumnya tak terpikir oleh warga untuk membuat kopi luwak yang harganya selangit. Namun berkat usahanya dan kelompok yang ia bentuk, akhirnya banyak warga Sempian memelihara musang untuk dijadikan media guna menghasilkan kopi luwak berkualitas. Menurut Nyoto, awal dirinya tahu pembuatan kopi luwak dari televisi. Dari televisi itulah ia belajar untuk memelihara musang, kemudian menghasilkan ratusan kilogram kopi luwak yang siap dijajakan kepada masyarakat. Namun tak adanya penampung akhirnya dari 10 anggota kelompok kopi luwak Nur Jaya yang dibuatnya banyak melepas musangnya. ‘’ Biaya operasional untuk musang dalam satu hari lebih kurang Rp13 ribu per ekor. Jadi kalau lima ekor tentu sangat besar biayanya,’’ kata Nyoto seraya menambahkan rata-rata anggota kelompok kopi luwak di Sempian memiliki 3-13 ekor musang.
Dengan kondisi itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. ‘’ Sedangkan pembeli kopi luwak masih terbatas,’’ jelasnya.
Sambil melihat musang yang dipeliharanya, Nyoto menjelaskan, kalau binatang yang menghasilkan cita rasa kopi berkualitas dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit tersebut memerlukan biaya tidak sedikit untuk memeliharanya. Karena musang tak hanya diberi makan kopi saja akan tetapi juga diberi makanan lain, seperti pisang, nenas bahkan sampai memberi makan ayam dan ikan.
‘’ Jika makan tak cukup dan akan kelaparan lambat laun musang mati. Karena tak sanggup memberi makan musang akhirnya beberapa warga melepaskannya dengan alasan biaya untuk makan yang cukup besar,’’ ujar Nyoto.
Nyoto sangat menyayangkan banyak warga yang melepas musang milik mereka. Memang untuk sementara musang itu mudah didapat warga, akan tetapi dalam jangka waktu tertentu dikhawatirkan musang itu akan hilang atau musnah sehingga susah di dapat. Saat ini saja untuk musang ukuran dewasa per ekornya dijual dengan harga Rp200-300 ribu per ekornya.’’ Bahkan harga musang per ekornya pernah mencapai Rp500 ribu per ekor,’’ ujarnya.
Besarnya biaya untuk operasional memelihara musang ini juga diakui Misran, petani kopi lainnya. Saat Riau Pos melihat kandang musang miliknya hanya ada satu ekor.’’ Tinggal satu ekor pak, dua ekor sudah saya lepas, biaya makannya besar, sementara pasar kopi luwak yang kami produksi belum jelas, kalau sudah jelas nanti ditangkap lagi,’’ tuturnya.
Misran menambahkan, memelihara musang sebenarnya tidak sulit, tapi biaya makan per harinya bisa mencapai Rp13-15 ribu. ‘’ Terkadang harus memberikan dia (musang,red) makan anak ayam, ikan dan buah. Tapi karena kita perlu untuk dapat biji kopi bagus, makanya dipelihara juga,’’ jelas Misran, yang memiliki 2,5 jalur kebun kopi yang per bulannya bisa mendapat satu ton buah kopi basah.
Atik (30), warga Dusun Parit Gantung, yang juga bagian dari kelompok Kopi Luwak Sempian juga mengatakan hal yang sama. Terutama dalam memenuhi makannya setiap hari. ‘’ Kalau siang kurang makannya. Malam hari baru banyak makannya. Jadi harus diperhatikan betul. Kalau berbunyi-bunyi dia (musang) tengah malam, berarti dia lapar,’’ jelas Atik yang saat itu baru selesai menjemur buah kopi yang sudah mulai berwarna coklat tertimpa panas di atas terpal di depan halaman rumahnya.
Selain memiliki kebun kopi seluas lima jalur, dirinya juga penampung biji kopi dari warga terutama membeli buah kopi basah yang kemudian dia giling menjadi kopi dan dijual kembali pada penampung kopi yang ada di Selatpanjang maupun di kampungnya tersebut.
Untuk mendapatkan biji kopi dari kotoran musang ini tak semudah dibayangkan. Karena tak setiap hari musang diberikan buah kopi. Namun dalam satu pekan hanya diberi maksimal empat kali. Setiap pemberian paling banyak hanya 2 kilogram. Jangan berharap dari dua kilogram kopi yang diberikan itu habis dimakan sama mugsang. Paling tinggi setengah kilogram hingga satu kilogram kopi saja.
Musang tak serta merta memakan buah kopi yang diberikan. Namun pemilik musang harus memilih buah kopi yang masak ranum dan masih segar. Jangan diberi buah kopi masak yang kite petik beberapa hari lalu. Tak akan disentuh dan dimakan musang tu, jelas Nyoto.
Agar buah kopi bisa dimakan musang, makanya saat memetik buah kopi yang sudah masak ranum kemudian pilih yang paling segar baru diberikan ke kandang.’’ 0Sudah pilihan begitu terkadang hanya dia makan secuil aje,’’ jelas Nyoto sambil memperlihatkan buah-buah kopi segar yang bakal dimakan musang.
Pengalaman sulit untuk mendapat biji kopi dari kotoran musang ini juga dialami Misran. Menurut dia buah-buah kopi yang diberikan benar-benar pilihan dan segar. Sepertinya musang ini penciumannya pandai memilah dan memilih kopi bagus dan segar. Pernah beberapa kali dirinya memberikan buah kopi yang dipetik dua hari sebelumnya. ‘’ Memang tak disentuh sedikitpun,’’ kata Misran.
Banyaknya kopi luwak yang didapatkan tentu dikumpul dari kotoran musang selama berbulan-bulan. Karena untuk satu ekor musang dalam satu bulan paling banyak jika sudah menjadi kopi hanya satu kilogram. Itupun dinilai sudah sangat banyak, karena tak jarang didapat hanya di bawah satu kilogram yang kulit arinya belum dikupas atau sebelum menjadi biji kopi kering.
Sangat Membantu
Luasnya areal perkebunan di Sempian membuat perkembangbiakan musang sangat banyak. Keberadaan musang liar ini juga sangat membantu warga untuk mendapatkan kopi-kopi berkualitas yang bisa dimasukkan bersama-sama dengan biji-biji kopi dari kotoran ternak musang warga.
Tak heran jika di daerah Sempian warga yang tak memiliki ternak musang akan tetapi bisa menjual kopi luwak ke penampung. Hal ini seperti dikatakan Sarimen (70) warga Dusun Parit Kasan, dari satu hektare kebun kopi yang dimilikinya per bulannya bisa mendapatkan 1-2 kilogram kopi dari kotoran musang liar di dalam kebunnya.
‘’ Kalau rajin mencari kotoran musang di dalam kebun banyak dapatnya,’’ jelas Sarimen.
Untuk mencari kopi kotoran musang itu dilakukannya sepekan sekali. ‘’ Kalau rajin mencari banyak dapat. Tapi kalau kopi sedang masak tak jarang dibiarkan saja, setelah tak musim panen baru dicari lagi. Apalagi dah tahu kopi luwak banyak khasiatnya. Kalau dulu ya dibiarkan saja berserakan di kebun, sekarang tidak lagi diambil,’’ kata Sarimen yang menyempatkan berhenti dan berbincang dengan RPG di pinggir jalan saat pulang dari tempat acara pesta.
Menurutnya sejak adanya penampung kopi luwak hampir semua warga mulai mencari dan mengumpulkan biji kopi tersebut.’’ Kalau tidak kita hanya memanen kopi di kebun saja. Bisa dijual basah atau kering,’’ jelasnya.
Sebagai penampung kopi luwak, Nyoto menjelaskan bahwa kualitas dari kopi kotoran musang liar sangat bagus kualitasnya. Kualitasnya sudah teruji dan kopi-kopi dimakan musang liar ini lebih bagus. Namun untuk mendapatkan lebih banyak memerlukan waktu sangat lama sehingga warga lebih mengumpulkan untuk dikonsumsi sendiri.
Banyaknya kotoran musang di kebun-kebun kopi warga terbukti saat RPG berkeliling di kebun kopi Nyoto. Beberapa rumpun pohon kopi ditemukan tumpukan-tumpukan biji kopi dari kotoran musang. ‘’ Ini biji kopi kotoran musang liar itu,’’ kata Nyoto sambil jarinya menunjuk sedikitnya 10-20 biji kopi berserak tak jauh dari rumpun kopi.
Biji kopi dari kotoran musang liar ini tak boleh dibiar lama-lama nanti hancur biji kopi di dalamnya. Paling tinggi dalam satu bulan sudah harus diambil dari tanah. Jika tidak kulit ari biji kopi hancur dan kopi di dalamnya tak sedap dan jadi masam, jelasnya.
Harga kopi luwak memang cukup tinggi, untuk per kilogramnya bisa mencapai Rp200 ribu untuk belum menjadi biji kopi atau masih ada kulit arinya. Sedangkan untuk serbuk kopi luwak, seperti serbuk kopi luwak jantan, per kilogramnya mencapai Rp2 juta. Kemudian untuk serbuk kopi luwak biasa Rp1 juta.
Tingginya kopi luwak jantan karena memiliki beberapa khasiat. Terutama menghilangkan diabetes, darah tinggi, masuk angin, kanker hati dan menghilangkan maag.’’ Sayangnya pembeli sangat terbatas, karena kita belum mendapatkan pasarnya,’’ kata Nyoto lagi.
Untuk kopi luwak yang dikumpulkan dari kelompoknya baru bisa dipasarkan ke Selatpanjang, Tanjung Balai Karimun dan Pekanbaru. Menurutnya baru-baru ini ada permintaan dari Jakarta. Akan tetapi sampai saat sekarang belum ada kabar. Akhirnya Nyoto harus turun sendiri melakukan penjualan di pasar. Bahkan dirinya pernah langsung menggunakan sepedamotor dari Ransang menuju Tanjung Buton, Siak, Perawang hingga ke Pekanbaru.
‘’ Itupun tak laku semuanya. Tapi namanya usaha ya saya coba. Walaupun jauh,’’ lanjutnya.
Terkenal ke Luar Negeri
Mayoritas warga yang tinggal di Dusun Parit Gantung, Parit Nibung, Parit Sentul, Parit Amat, Parit Kasan dan Kedaburapat memililiki kebun kopi. Luas lahan kopi yang dimiliki warga kisaran 1-30 jalur per KK. Dari data yang ada luas perkebunan kopi di Kedabu Rapat atau Sempian ini mencapai 600 hektare lebih.
Dengan jumlah mencapai 3.000 KK di Desa Kedabu Rapat Kecamatan Ransang Pesisir diperkirakan menghasilkan 200 ton biji kopi yang dijual kepada penadah yang ada di desa tersebut dan juga Selatpanjang.
Jika musim panen per jalurnya bisa mendapatkan 1 ton buah kopi. Jadi hitung saja jika satu kepala keluarga memiliki 3-10 jalur kebun kopi, tentu per panennya memiliki puluhan ton buah kopi basah dan kering.’’ Mayoritas warga di Sempian ini memiliki kebun kopi, paling tidak untuk keperluan sendiri,’’ jelas Nyoto.
Banyaknya buah kopi ini terbukti dari pengakuan Sarimen, yang setiap bulannya atau 20 hari sekali bisa memanenkan 500-700 kilogram buah kopi. Begitu juga disampaikan Atik yang dirinya per panen bisa menghasilkan buah kopi lebih dari 2 ton. Kemudian Misran per panennya mampu mendapatkan buah kopi 2-3 ton.
Seperti pernyataan Kamaruddin, warga Dusun Parit Besar, dari 3 jalur kebun kopi miliknya paling sedikit atau saat melawas mampu menghasilkan 500 kilogram buah kopi basah.’’ Kalau musim buah bisa mencapai 1 ton bahkan lebih,’’ jelasnya saat bertandang ke rumah Nyoto kala itu.
Nyoto menjelaskan sampai saat sekarang para pembeli biji kopi dari Sempian para juragan lokal baik di Ransang maupun Selatpanjang. Dengan kisaran buah kopi per kilogramnya Rp2.000 sampai-2.500.
Menurut Nyoto dan para pemilik kebun kopi lainnya, untuk bulan-bulan tertentu, seperti bulan Juni 2012 lalu penghasilan kopi tumpah ruah di kampungnya tersebut, bahkan hampir setiap rumah memiliki tempat jemuran buah kopi basah.’’ Biasanya bulan Juni dan 12 masyarakat panen raya buah kopi. Karena curah hujan tinggi dan pada umumnya kopi di kebun masak. Saat hujan tiba kopi banyak masak. Kalau musim panas, lambat masaknya,’’ kata Nyoto.
Tingginya kualitas kopi di Sempian ini tercium hingga ke Malaysia. Ini diketahuinya saat dirinya bekerja di Malaysia sejak tahun 1980-1998 lalu. Di Batu Pahat, salah seorang agen biji kopi Ransang bernama Ho Seng, pernah mengungkapkan kalau biji kopi dari Sempian kualitas terbaik.
Untuk itu ia berharap ratusan ton biji kopi yang ada di Sempian, baik biji kopi biasa dan biji kopi luwak bisa dicarikan penampungnya di Indonesia.’’ Kita penghasil kopi biasa dan kopi luwak terbesar, tapi pasarannya susah didapatkan. Jadi kita berharap ada yang mencarikan itu dan mempromosikan sehingga kopi-kopi di Sempian bisa dikenal di Indonesia,’’ jelasnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar