Senin, 29 April 2013

Berwirausaha dengan Etika

Sebagian cita-cita Kartini telah terlaksana. Banyak perempuan yang telah berkecimpung dalam dunia usaha. Namun, sering kali seseorang, khususnya perempuan, dihadapkan pada berbagai tantangan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan aktivitasnya.


Jika tantangan ini dikelola secara positif, akan menjadi motivasi ampuh untuk mengembangkan aktivitas sekaligus kompetensi diri dalam rangka mencapai suatu posisi atau hal-hal tertentu. Lebih jauh lagi, tantangan akan membawa dampak tertentu terhadap perkembangan diri.

”Tantangan-tantangan untuk sukses menjadi pribadi yang menarik itu banyak sekali,” kata Yunita Maya Putri, dosen pengajar Perguruan Tinggi Teknokrat, saat memberikan pembekalan tentang etika kepribadian dan professional image kepada peserta workshop Muli-Mekhanai Bandarlampung 2013 kemarin.

Muli Bandarlampung 2005 ini menjelaskan, untuk menjadi pribadi yang menarik, seseorang harus memiliki empat hal. Yaitu citra diri atau penampilan, etika, komunikasi, dan kompetensi (keahlian, kecerdasan, dan pengalaman).

Maya –sapaan akrab Yunita Maya Putri– menjelaskan, biasanya orang lain menilai diri kita dari penampilan pertama. Jadi, tampilkan penampilan sebaik mungkin! ”Seperti ada yang bilang, penampilan pertama begitu menggoda, setelah itu terserah Anda,” ungkapnya.

Ia pun tak menampik jika selalu ada rasa minder dalam diri ketika bergaul. Maya pun memotivasi para peserta untuk menghilangkan rasa itu dimulai dari niat. ”Memang butuh proses untuk bisa berubah menjadi lebih baik. Tapi, setidaknya kita sudah berusaha untuk ke arah yang lebih baik,” ujar Maya.

Sementara untuk mendorong para calon muli-mekhanai mengasah bakat di dunia bisnis, pembekalan kemarin juga menghadirkan tiga pengusaha cantik dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) untuk berbagi pengalaman. Mereka adalah Shinta Desia, Syuli Bachrein, dan Lia Putri.

Ketiganya berasal dari keluarga yang sederhana. Namun, dengan semangat tinggi untuk berwirausaha, ketiganya kini menjadi pengusaha muda yang sukses di Bandarlampung. Mereka pun berhasil menularkan semangat kepada para peserta workshop. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta yang melontarkan pertanyaan.

Salah satu peserta dari Universitas Bandar Lampung, misalnya. Ia menanyakan hal dasar dalam berbisnis. Yakni bagaimana seorang wirausaha melihat peluang sehingga muncul ide untuk berbisnis. Kemudian mahasiswa Universitas Mitra Lampung juga penasaran dengan rintangan yang mungkin dihadapi dalam mewujudkan mimpi berbisnis.

Menjawab ini, Syuli Bachrein mengatakan, hambatan pada awal membuka usaha biasanya adalah mencari lokasi yang strategis. ”Jadi sebelum kita mendirikan usaha, sebaiknya kenali dahulu daerah atau tempat peluang usaha itu sendiri,” tuturnya.

Antusiasme juga datang dari calon mekhanai yang masih SMA. Ia meminta tips untuk mendapatkan modal usaha dan tetap bertahan dalam persaingan bisnis. Mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini, para narasumber mengaku senang dengan antusiasme para peserta.Shinta Desia pun memberikan motivasi kepada peserta untuk bisa menanamkan jiwa kewirausahaan dalam diri mereka. ”Jangan habiskan mimpimu. Temukan alasan berwirausaha, setelah itu wujudkan!” ungkap Shinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar